Bagaimana masa depan anak Unschooling ??

Seringkali kawan-kawan yang baru mengenal Unschooling bertanya tentang “Bagaimana masa depan anak Unschooling?”

Sebuah pertanyaan yang logis bukan ?! Apalagi diketahui bahwa anak Unschooling tidak mengenyam pendidikan formal. Sehingga tidak punya ijazah formal.

Ini sebenarnya pangkal pertanyaannya. Bagaimana masa depan anak yang tidak memiliki ijazah formal? Bisakah dia bekerja di masa depan?

Apakah Anda juga memiliki pertanyaan demikian ? ūüėä

Yang pasti, jika kita bicara tentang masa depan. Sama-sama tidak ada yang bisa memastikan. Hanya Tuhan lah yang maha tahu tentang masa depan. Kita hanya bisa memprediksi apa yang akan terjadi di masa depan.

Orang tua pun memiliki prediksi masa depan anaknya. Itulah sebabnya pada awalnya orang tua memilihkan metode pendidikan yang cocok dengan kepribadian anaknya dan prospek di masa depan.

Sekali lagi kita hanya bisa memprediksi, bukan memastikan. Jadi apakah Anda penganut Schooling, Homeschooling, ataupun Unschooling, sangat tidak elok jika memastikan masa depan. Sekali lagi, semua hanya prediksi. Dan setiap orang tua memiliki prediksi nya masing-masing.

Sekedar renungan, berkaitan dengan prediksi masa depan anak Unschooling. Jika anak unschooling tidak punya ijazah formal dianggap tidak punya masa depan yang jelas. Perbandingannya adalah, apakah anak yang memiliki ijazah formal pasti memiliki masa depan yang cerah ? Belum tentu juga kan?! ūüėä

Jika anak unschooling di masa depan dianggap tidak bisa mendapatkan pekerjaan. Perbandingannya apakah anak yang non-unschooling dijamin pasti bisa mendapatkan masa depan? Belum tentu juga kan ?! ūüėä

Jika anak unschooling dikhawatirkan akan minder. Apakah anak yang non-unschooling dijamin tidak minder? Belum tentu juga kan ?! ūüėä

Jika anak unschooling dianggap tidak bisa disiplin. Apakah anak non-unschooling pasti disiplin? Belum tentu juga kan ?! ūüėä

Jika anak unschooling dianggap tidak memiliki etika yang baik. Apakah anak non-unschooling pasti memiliki etika yang baik ? Belum tentu juga kan ?! ūüėä

Pada dasarnya Schooling, Homeschooling, ataupun Unschooling sekedar pilihan metode yang Anda (sebagai orang tua) yakini akan mendukung kesuksesan anak Anda.

Kesuksesan yang sebenarnya, bukan disebabkan Anda memilih metode Schooling, Homeschooling, atau Unschooling untuk anak Anda. Kesuksesan yang sebenarnya akan terwujud jika:

  1. Anak mengenali tujuan hidupnya.
  2. Anak mengenali kelebihan-kekurangannya; hal yang dia sukai-tidak disukai; hal yang dia butuhkan-tidak dibutuhkan; dll.
  3. Anak bersedia belajar pelajaran yang selaras dengan tujuan hidupnya.
  4. Anak bersedia berjuang / bekerja sesuai dengan potensi, dan selaras dengan tujuan hidupnya.
  5. Anak memiliki etika yang sesuai dengan lingkungan dia berada.

Nah… Sekarang giliran Anda sebagai orang tua, metode apa yang menurut prediksi Anda bisa membekali anak Anda dalam mewujudkan kesuksesannya ?

Semoga Anda dan kita semua bisa memberikan fasilitas belajar terbaik untuk anak. Serta bisa menjadi teladan anak dalam perjuangan mewujudkan kesuksesannya.

#KataMasOkta

Iklan

Ruasdito adalah

Ruasdito adalah kependekan dari RUte ASuh DIdik ala TOge. Yang merupakan hasil assessment dari “cetakan” anak. Ruasdito bisa menjadi acuan orang tua dalam menjalankan perannya sebagai fasilitator belajar anak.

Bagaimana cara mengetahui Ruasdito anak?

Ruasdito sebagai ciri khas OmGe (panggilan beken Toge Aprilianto), seorang psikolog anak yang cerdas, eksentrik dan bijaksana. Maka untuk mengetahui Ruasdito, hanya ada satu-satunya jalan. Yakni berkonsultasi langsung dengan OmGe.

Haruskah orang tua mengetahui Ruasdito anaknya ??

Ada baiknya setiap orang tua mengenali rute belajar anaknya. Sehingga bisa menjadi fasilitator belajar yang sesuai dengan karakter anak.

Orang tua bebas menganut rujukan asesmen rute belajar yang mana. Bisa Anda menemukan sendiri, atau minta pendapat ahli yang lain. Namun jika Anda menganut pendapat OmGe, maka hasil asesmen tersebut disebut Ruasdito.

Unschooling Tidak Harus Mahal

Pada awalnya saya beranggapan bahwa memilih metode Unschooling untuk anak, merupakan pilihan yang beresiko dalam hal pembiayaan. Atau bisa disebut MAHAL. Sehingga diperlukan kesiapan finansial tertentu jika Anda memilih metode pendidikan Unschooling untuk anak Anda.

Coba saja Anda bayangkan. Misalnya Anda memilih metode Schooling untuk anak Anda. Maka biaya operasional pembelajaran akan ditanggung oleh sejumlah siswa. Belum lagi bantuan dari pemerintah.

Atau misalnya saat anak Anda akan melakukan study tour. Dimana pembiayaannya ditanggung oleh sejumlah siswa yang menjadi peserta. Baik biaya yang sudah ditarik diawal masuk sekolah, ataupun yang ditarik secara insidental.

Yang pasti biaya tersebut lebih murah jika dibandingkan jika Anda menanggung sendirian. Seperti jika Anda menganut Unschooling. Dimana Anda secara mandiri menyelenggarakan pendidikan anak Anda. Segala biaya belajar, karya wisata, hingga mendatangkan ahli bidang tertentu untuk menjadi tutor anak Anda, Anda sendiri-lah yang menanggung.

Itu adalah pemahaman saya yang dulu. Ketika awal mengenal metode Unschooling. Mungkin sama seperti Anda yang baru mengenal Unschooling, dan masih kesulitan memahami secara utuh tentang apa itu metode Unschooling.

Padahal, biaya Unschooling TIDAK HARUS MAHAL, dan bahkan bisa LEBIH MURAH daripada metode lainnya.

Karena prinsip Unschooling adalah memberikan FASILITAS BELAJAR pada anak. Dan antara BALAJAR dan materi pelajaran sekolah, tidak selalu berhubungan.

Jadi Anda tidak harus menyelenggarakan pendidikan ala sekolah formal secara mandiri. Anda boleh menentukan perilaku atau skill apa yang harus dimiliki anak Anda. Biasanya perilaku dan skill yang mengantarkan anak Anda bisa menjadi orang yang mandiri kelak.

Dari target perilaku dan skill tersebut, baru disusunlah proses belajarnya. Dan belajar bisa dilakukan dimana saja. Bisa di rumah, bisa d tempat usaha Anda, bisa di lembaga kursus, bisa di perjalanan, atau dimana saja.

Pelajaran utama dari Unschooling adalah belajar bertanggung jawab dan hidup secara mandiri. Berawal dari mandiri fisik, baru kemudian mandiri secara finansial.

Karena proses pembelajaran bisa “ditumpangkan” dengan aktivitas kerja Anda. Maka Anda akan sangat menghemat uang Anda. Biaya study tour bisa dijadikan satu dengan biaya liburan keluarga.

Unschooling sangat elastis. Jadi bisa menyesuaikan dengan profesi Anda. Tidak membutuhkan waktu khusus. Hanya butuh TELADAN serta kesediaan orang tua untuk memberikan kesempatan anak belajar tentang hal apapun juga sesuai minat dan bakatnya.

#KataMasOkta

Asal usul Sekolah

Sejarah Sekolah

Sejarah asal-usul sekolah dan istilahnya dimulai pada zaman Yunani Kuno. Dahulu, orang lelaki Yunani dalam mengisi waktu luang mereka dengan cara mengunjungi sesuatu tempat atau seseorang yang bijaksana untuk bertanya atau¬†mempelajari hal-hal maupun¬†perkara yang mereka rasa perlu diketahui. Mereka menyebut kegiatan itu dengan istilah scola, skhole, scolae atau schola. Keempat-empatnya memiliki¬†arti yang sama, yaitu ‚Äúwaktu luang yang digunakan secara khusus untuk belajar.‚ÄĚ

Lama-kelamaan, kebiasaan mengisi waktu luang untuk mempelajari sesuatu itu akhimya tidak lagi semata-mata menjadi kebiasaan dalam lelaki di masyarakat Yunani Kuno. Kebiasaan itu akhirnya diikuti oleh kaum perempuan dan anak-anak.

Disebabkan desakan perkembangan kehidupan yang kian beragam dan mengambil waktu orang tua, maka si ayah dan si ibu merasa tidak punya waktu lagi untuk mengajarkan banyak hal kepada anak-anak mereka. Oleh karena itu, mereka kemudian mengisi waktu luang kepada anak-anak mereka dengan cara menyerahkannya kepada seseorang yang dianggap bijaksana di suatu tempat tertentu.

Di tempat itulah, anak-anak boleh bermain, belajar atau berlatih melakukan sesuatu apa saja yang mereka anggap patut dipelajari dan sampai saatnya kelak mereka harus kembali ke rumah menjalankan kehidupan orang dewasa sebagaimana lazimnya.

Sejak itulah, terjadi pengalihan sebagian dari fungsi scola matterna (pengasuhan itu sampai usia tertentu), yang merupakan proses dan lembaga sosialisasi tertua umat manusia, menjadi scola in loco parentis (lembaga pengasuhan anak-anak pada waktu senggang di luar rumah sebagai pengganti ayah dan ibu).

Akhirnya, lembaga pengasuhan atau pendidikan sebagai¬†tempat pengasuhan dan pembelajaran anak-anak pada waktu senggang di luar rumah sebagai pengganti orang tua¬†disebut almamater (alma mater) yang memiliki makan ‚Äúibu yang mengasuh‚ÄĚ atau ‚Äúibu yang memberikan ilmu‚ÄĚ.

Dengan demikian pengertian sekolah sebenarnya adalah¬†tempat mengembangkan bakat, minat, rasa ‚Äúceria‚ÄĚ untuk belajar, menjadi manusia yang berilmu, berasa bebas untuk menjadi manusia yang diinginkannya. Bukan seperti saat ini dimana sekolah sepertinya sebuah tempat yang¬†dipaksa untuk mengikut kurikulum tertentu yang bisa¬†menimbulkan ‚Äúkebencian‚ÄĚ dan kebosanan untuk belajar.

+++++
Sumber copas : http://padamu.net/pengertian-dan-sejarah-sekolah

Cara Menghindari “Star Syndrome”…

Star Syndrome adalah sebuah satu ciri-ciri, simtom, atau tanda-tanda tentang perasaan sebagai seorang bintang (star). Orang-orang yang terjangkit star syndrome merasa dirinya adalah seorang bintang, selebritis, atau orang penting. Sehingga perilakunya mencontoh perilaku selebriti, namun sesuai dengan persepsinya sendiri. Setidaknya perilaku selebritis yang dicontoh adalah seperti yang dia anggap tertayang di film, terkabar di infotainment, atau sesuai praduganya sendiri.

Orang yang rawan terkena star syndrome adalah orang yang biasa-biasa saja. Perhatian dari lingkungan pun biasa-biasa saja padanya. Namun pada suatu momen dia mendapatkan perhatian lebih dari masyarakat. Ada hal yang membuatnya menjadi spesial. Bisa jadi karena dia berprestasi di suatu bidang, atau berjasa pada suatu peristiwa, atau apapun. Atau bisa juga menjangkiti seseorang yang baru saja menjadi public figure. Misalnya penyanyi, seniman, pejabat kampung, motivator, ustad, dosen, dan lain-lain, yang baru saya mendapat perhatian dari masyarakat melalui profesinya tersebut.

Kondisi orang yang mengalami¬†star syndrome mirip dengan orang yang mengalami “waham kebesaran”.

Ciri-ciri star star syndrome :

  1. Merasa dirinya orang terkenal.
  2. Hanya menggunakan produk terkenal saja. Atau malu menggunakan produk dengan brand biasa-biasa saja.
  3. Hanya makan di tempat makan berkelas tinggi.
  4. Selalu minta fasilitas tertinggi.
  5. Merasa orang lain harus tunduk dan hormat padanya.
  6. Maunya selalu harus dilayani, disambut, dan dielu-elukan.
  7. Enggan menjalin komunikasi dengan orang yang strata sosialnya biasa-biasa saja. Terkadang senyum pun enggan.
  8. Mendominasi pembicaraan dengan tema kelas tinggi.
  9. Merasa harus tampil sangat sempurna.

Dampak negatif dari orang-orang yang terkena star syndrome adalah, pada umumnya dirinya sangat melekat dengan persepsi dirinya sebagai bintang. Sehingga ketika terjadi kondisi dimana ke-bintang-an-nya tercabut, terabaikan, atau ada orang yang lebih star dari dia. Maka dia akan rawan mengalami depresi dan bahkan mengalami psikosomatis. Yakni penyakit fisik yang disebabkan oleh ketertekanan kondisi psikologis.

Cara menghindari star syndrome :

  1. Yakini bahwa kehebatan Anda adalah milik Tuhan. Bukan milik Anda. Ya kebetulan saja saat momen tersebut Tuhan menitipkan secuil kehebatanNya pada Anda.
  2. Yakini bahwa segala film dan berita selebriti adalah dirancang untuk hiburan saja. Bukan untuk wajib diteladani.
  3. Membiasakan diri selalu rendah hati. (bukan rendah diri).
  4. Yakini bahwa setiap orang memiliki keunggulannya masing-masing. Dan setiap keunggulan ini memiliki masa berlaku sesuai kehendak Tuhan.
  5. Ketika keunggulan yang Anda miliki, tercabut atau tersaingi. Yakini bahwa Tuhan pasti memberikan Anda peluang yang lain untuk Anda tetap bertahan dalam kehidupan ini.
  6. Perpanyak referensi tentang kehidupan dari berbagai strata sosial. Termasuk para orang hebat yang tetap rendah hati.

Semoga segala keunggulan Anda menjadikan Anda semakin rendah hati bagai padi yang makin berisi, makin merunduk.

Semoga bermanfaat….

#RenunganPerjalanan #TerapiPikiranBahagia #KataMasOkta #KataMotivasi

++++++++++++++++++++

Appointment konsultasi motivasi & hipnoterapi / seminar motivasi & seminar parenting

WA: 085105224499

Mengenal Chanel Pikiran Anak

*Mengenal Chanel Pikiran Anak*

Manusia itu mirip komputer, memiliki hardware dan software. Dimana juga memiliki chanel, seperti televisi atau handphone. Segala informasi yang dipahami seseorang, pasti telah melalui chanel yang sesuai dengan orang tersebut. Mirip seperti kontak WhatsUp. Ketika saya mengirim pesan ke Anda via WhatsUp, namun nomornya salah satu digit, apakah pesan tersebut akan sampai pada Anda ??  Pasti tidak. Pesan akan sampai jika chanelnya tepat.

Bisa Anda bayangkan jika antara Anda, sebagai parents, dan anak Anda, saling tidak memahami chanelnya masing-masing. Bisa dipastikan pesan yang disampaikan akan sulit dipahami. Anak menjadi sulit menerima pesan parentsnya, dan parents juga kesulitan memahami maksud anaknya.

Terkadang sebagian masyarakat cenderung memberikan stigma tertentu pada anak. Misalnya anak nakal, atau anak pintar. Berdasarkan perilakunya. Padahal salah satu faktor penyebab perilaku anak adalah chanel pikiran ini. Dan chanel pikiran ini sama sekali tidak berhubungan dengan kenakalan atau kepintaran.

Terdapat tiga chanel utama pada setiap orang. Pada umumnya hanya salah satu atau dua saja yang dominan pada seseorang. Meskipun ada beberapa orang yang ketiga chanelnya sama-sama dominan. Sebagian orang menyebutnya dengan istilah “Akses Modalitas”.

Tiga chanel pikiran yakni :

1. Chanel VISUAL

Orang yang dominan chanel VISUAL adalah orang yang mudah menerima informasi dengan cara melihat.

Ciri-ciri orang yang dominan visual :

  • Jika di kelas atau tempat pertemuan, suka memilih duduk di depan. Sehingga dia mudah melihat presentasi dan orang yang menyajikannya.
  • Duduk tenang memperhatikan. (bahasa Jawa : “anteng”)
  • Memilih pakaian yang indah dipandang. Baik dari sisi warna maupun modelnya.
  • Jika diberikian nasihat, lebih cepat memahami dan bertindak.

 

2. Chanel AUDITORI

Orang yang dominan chanel AUDITORI adalah orang yang mudah menerima informasi dengan cara mendengar. Konon jumlah orang berchanel auditoti ini sangat sedikit sekali di dunia.

Ciri-ciri orang yang dominan auditori :

  • Mudah memahami informasi yang diceritakan, daripada yang dibaca atau dilihat.
  • Peka pada suara, termasuk frekuensi yang sulit didengar kebanyakan orang. Misalnya instrumen musik pada musik orcestra. Orang yang dominan auditori bisa mendengar satu-per satu intrument tersebut meskipun sedang dimainkan bersamaan.
  • Mudah terganggu dengan suara berisik.
  • Pada beberapa orang, jika sedang memperhatikan sesuatu, kepalanya cenderung serong. Seakan-akan mengedepankan telinganya daripada wajahnya.

 

3. Chanel KINESTETIK

Orang yang dominan chanel KINESTETIK cenderung mudah memahami informasi jika dia sambil bergerak, atau jika dia sudah mengalami sendiri informasi tersebut. Konon orang yang dominian chanel kinestetik ini jumlahnya sangat banyak sekali.

Ciri-ciri orang yang dominan kinestetik :

  • Banyak gerak. Sulit untuk duduk tenang. Hal ini sangat bertolak belakang dengan ciri orang yang dominan kinestetik yang cenderung tenang dan memperhatikan.
  • Pada anak TK dan SD sering ditemukan suka meraut pensil, atau mencuil-cuil penghapus karet hingga habis.
  • Memilih pakaian yang asal nyaman. Dan seringkali mengabaikan perpektif keindahan.
  • Lebih mementingkan isi atau substansi daripada kemasan.
  • Sering mencoba atau membuktikan sendiri suatu informasi. Hal inilah yang membuat orang yang dominan kinestetik terkesan bandel. Jika diberikan nasihat (beruapa suara) tidak langsung dilakukan.

 

Sebagai parents kekinian, sangat penting untuk memahami tiga chanel ini. Baik mengenali chanel diri sendiri, pasangan, dan juga anak. Sehingga bisa terhindar dari perdebatan yang sia-sia.

Bisa Anda bayangkan¬†jika seorang ibu yang dominan chanel visual, dan memiliki anak yang dominan chanel kinestetik. Sang ibu cenderung tenang dan memperhatikan. Jika mendapatkan informasi atau nasihat, dia mudah membayangkannya dan mengkonfersinya menjadi perilaku nyata. Sedangkan sang anak banyak gerak, sulit duduk diam. Dan jika diberikan nasihat, sang anak tidak langsung melakukan. Namaun seperti membuktikannya dulu. Misalnya : “Nak, kamu di kamar dulu, lantai ruang tamu sedang di pel. Masih licin”.

Dalam kondisi ini, bisa jadi anak malah keluar kamar dan menuju ruang tamu. Dia tidak bisa memahami betul nasihat berupa ucapan ibunya. Namun, jika dia terpeleset, maka dia akan paham apa yang disebut dengan licin.

Begitu pula dengan cara belajar. Anak yang dominan chanel kinestetik akan banyak gerak. Dan jika ibunya dominan chanel visual, apalagi tidak memahami tentang tiga chanel pikiran ini. Maka sang ibu akan mudah untuk marahin anaknya dan memaksa anaknya untuk belajar dengan duduk tenang, dan fokus memperhatikan, seperti yang dilakukan ibunya. Dan jika anak kinestetik belajar dengan duduk diam tanpa ada kesempatan bergerak, maka bisa jadi dia akan sulit menyerap pelajaran.

Contoh tersebut memberikan pemahaman bahwa, setiap orang memiliki chanelnya masing-masing. Ketika parents memahami perbedaan masing-masing chanel ini, maka ia pun akan lebih mudah memfasilitasi belajar anak sesuai dengan chanelnya.

Semoga bermanfaat….

#ParentsKekinian #SeminarParenting #TerapiPikiranBahagia #KataMotivasi #KataMasOkta

Pesta Para Lansia Pagi ini

‚Äč*Pesta Para Lansia Pagi Ini*

Bersyukur pagi ini Tuhan memberikan kesempatan menikmati degub jantung yang menghentak, seiring kaki bertalu dalam joging pagi.

Indahnya lagi ketika melewati depan sebuah perbelanjaan modern, dimana diarea parkirnya tampak para lansia berkerumun. Secara rutin mereka melakukan senam pagi bersama di tempat itu. Tampak panitia dan pesertanya, semuanya lansia. Hanya 2 orang anak muda yang membantu menyiapkan panggung dan sound syatem untuk instruktur senam. Yang juga seorang lansia.

Renung pun berkelana melampaui jasad. Indahnya kehidupan para lansia ini. Ketika banyak diluar sana lansia yang memilih untuk terpuruk, meratapi nasib, memeluk erat kerentaan nya, menuntut masa silam harus terjadi  lagi sekarang, keras kepala yang mengalahkan pertobatan, menyerah pada kondisi dan enggan berjuang untuk bahagia.

Sedangkan para lansia disini begitu menikmati peran yang diberikan Tuhan padanya pada saat ini. Mungkin tenaga tak sekuat dulu, mungkin paras tak secantik dulu, mungkin kekuasaan tak segagah dulu, dan mungkin finansial tak sebanyak dulu.

Namun para lansia ini tahu caranya “berpesta”. Alih-alih meratapi kolesterol yang menghantui, mereka memilih tuk bersua kawan-kawannya. Bercanda bak remaja meski sama-sama lansia. Mungkin dalam benak mereka, andai tinggal sejenak masa nya di tempat fana ini, mereka memilih untuk bahagia. Apapun bentuk kerentaan yang melandanya, silaturahim akan membugarkan jiwa dan tubuhnya.

SALUT untuk embah, eyang, dan oma-opa yang selalu BERSEMANGAT menjalani hidup.
#RenunganPerjalanan #TerapiPikiranBahagia #KataMasOkta #KataMotivasi