Tips menghadapi pertanyaan “Kapan nikah” saat silaturahim lebaran

halbi

Tips menghadapi pertanyaan “Kapan nikah” saat silaturahim lebaran

Bagi para joblowers yang sudah bekerja, mungkin saat ini sudah pasang kuda-kuda untuk menjawab pertanyaan “Kapan nikah” yang lazim ditanyakan oleh kerabat tentang status Anda saat ini. Banyak orang merasa risih mendapatkan pertanyaan ini. Apalagi memang pernikahan adalah urusan pribadi. Banyak aspek yang tidak mungkin untuk diceritakan pada orang lain. Apalagi bukan keluarga inti. Namun apa daya, norma sosial membuat pertanyaan ini menjadi basa-basi yang bermaksud untuk saling melepas rindu antar sanak keluarga yang lama tak jumpa.

Namun sebenarnya bukan masalah menikah saja yang menjadi pertanyaan yang membuat risih. Jika Anda sudah menikah pun, tak lepas dari pertanyaan urusan kehidupan pribadi tersebut. Misalnya : “Anaknya kok cuma satu, kapan nambah?”; “Sekarang kerja dimana? Kenapa nggak kerja di tempat pakde saja?”; “Lho sekarang jadi ibu rumah tangga ya, apa nggak sayang ijazah S-2 nya?”; “Anaknya sekolah dimana? Kenapa nggak disekolahin di sekolah favorit aja?”; “Bagaimana pasanganmu, sudah ada perubahan sikap?”; dan masih banyak lagi pertanyaan-pertanyaan yang membuat risih, karena menyangkut urusan pribadi. Apalagi diselingi oleh statmen atau nasihat yang sifatnya memaksa. Apakah Anda pernah mengalaminya ??  Hal ini membuat pekiwuh (rikuh, perasaan tidak nyaman pada orang yang lebih tua atau lebih dihormati) orang yang ditanyai. Jika dijawab apa adanya, bisa-bisa membuka aib atau kondisi internal keluarga, namun jika tidak dijawab, seakan menjadi pesakitan yang diinterogasi dan dipaksa untuk mengiyakan pendapat mereka.

Memang kerabat yang bertanya tersebut pasti memiliki maksud yang baik. Selain untuk mendapatkan gambaran yang lebih lengkap tentang kondisi terkini Anda dan keluarga Anda. Bisa jadi mereka berharap bisa lebih akrab dan mungkin mereka bisa turut andil membantu permasalahan Anda. Padahal pada jaman now ini, justru ikut campur atau kepo (dorongan ingin tahu yang besar) tentang masalah pribadi, malah bisa meretakkan keakraban antar kerabat.

Berikut ini adalah beberapa seting pikiran yang bisa Anda copy-paste pada pikiran Anda. Sehingga Anda tetap nyaman berkomunikasi dengan kerabat yang bertanya hal-hal pribadi, serta tetap menjaga silaturahim :

  1. Anda adalah orang yang bertanggung jawab pada kehidupan Anda. Segala permasalahan, Anda-lah yang menanggung sendiri resikonya. Jadi jika Anda ingin curhat pada kerabat, pilihlah kerabat yang bisa dipercaya dan kompeten untuk membantu Anda. Curhatlah secara pribadi. Hindari untuk curhat pada saat kumpul bersama (forum). Karena bisa jadi curhat Anda menjadi aib yang tidak semua kerabat bisa bijak menyikapinya.
  2. Niatkan momen halal bi halal ini sebagai momen menyambung silaturahim, serta hal-hal produktif lainnya. Misalnya cari kenalan saudara jauh yang cakep, info pekerjaan, peluang bisnis, ngenalin calon pasangan ke keluarga besar, ngenalin anak ke keluarga besar dan leluhur, dll.
  3. Woles saja ketika menghadapi kerabat yang kepo urusan pribadi Anda, dan memaksakan saran/pendapatnya pada Anda. Coba maklumi sikapnya yang demikian. Karena biasanya dia memiliki kebutuhan untuk diperhatikan dan diakui yang tinggi. Hal ini bisa disebabkan oleh masa kecilnya kurang mendapatkan perhatian dan pengakuan. Atau bisa juga kerabat yang sudah sepuh, sehari-hari tidak ada kegiatan yang bermakna, serta anak-anaknya sudah pada mandiri semua. Sehingga setinggi apapun stratanya saat ini, dia masih ingin mendapatkan perhatian dan pengakuan lebih. Sehingga sering yang dijadikan sasaran adalah kerabatnya yang menurut perspektifnya stratanya dibawah dia.
    Jika menghadapi kerabat yang seperti ini, cobalah untuk tidak memasukkan pikiran dan hati perkataanya. Jika Anda dikasih nasihat, coba diiyakan saja. Jika Anda direndahkan, hindari untuk diambil hati. Jika sangat terpaksa, ketika Anda sudah tidak kuat menahan tekanan darinya, coba hindari dia.
    Hindari untuk dendam dan selalu berikan maaf padanya. Maklumi kondisi psikologisnya yang demikian sebagai korban masa lalunya.
  4. Apapun strata Anda saat ini, hindari untuk tinggi hati ataupun minder. Niatkan momen ini adalah untuk silaturahim sesama manusia. Bukan secara profesional.
    Jika ada kerabat yang sok pamer kekayaan atau kehebatanya, katakan dalam diri Anda, bahwa bisa jadi kerabat Anda itu barusan saja menjadi kaya (OKB). Jadi wajarlah jika dia demikian. Seperti anak kecil yang sok jagoan setelah belajar satu jurus bela diri. Tersenyumlah Anda dalam hati.

Semoga bermanfaat….
Nikmati libur lebaran Anda kali ini….

Selamat idul fitri 1439H
Mohon maaf lahir dan batin

Iklan

Tips Curhat Yang Bermanfaat…

men wearing black suit jacket
Photo by rawpixel.com on Pexels.com

*Tips Curhat Yang Bermanfaat…*

Curhat yang merupakan kependekan dari curahan hati, merupakan sebuah fenomena dalam masyarakat jaman old hingga jaman now. Curhat adalah suatu aktivitas yang alami dilakukan oleh manusia sebagai mahluk sosial. Apakah Anda pernah curhat ??

Curhat pada dasarnya adalah cara untuk mengurangi beban pikiran, yang disampaikan melalui kata-kata kepada orang lain. Jadi curhat adalah bentuk aktivitasnya. Dimana aktivitas curhat ini adalah netral. Bukan baik dan juga bukan buruk. Namun terkadang curhat bisa menjadi hal yang buruk jika dilakukan secara tidak bijaksana.

Berikut ini adalah tips curhat sehingga bisa bermanfaat :

  1. Curhat dilakukan hanya jika menghadapi permasalahan yang pelik atau jalan buntu saja. Sehingga dengan curhat bisa mengurangi beban batin serta mendapatkan inspirasi baru.
  2. Curhat yang terlalu sering, apalagi berkaitan dengan urusan-urusan yang sepele mengindikasikan Anda memiliki kebutuhan untuk diperhatikan yang sangat tinggi. Atau bisa juga mengindikasikan Anda adalah orang yang memiliki ketahanan mental yang rendah.
    Jika Anda gemar melakukan hal ini, ada baiknya Anda secepatnya berkonsultasi dengan orang yang ahli. Sehingga kehidupan Anda menjadi lebih baik daripada sebelumnya.
  3. Pilih situasi yang sangat menjaga privasi Anda. Hindari untuk curhat pada kondisi yang terdapat banyak orang yang bisa ikut nimbrung. Hal ini rawan terjadi multi tafsir dan perspektif tentang permasalahan Anda. Maka Anda akan dibuat bingung, apalagi jika ada orang yang malah berbalik menyalahkan Anda dengan curhat Anda tersebut.
  4. Pilihlah kerabat atau saudara yang kompeten menerima curhat Anda. Setidaknya bisa menjaga rahasia, bisa menyikapi dengan bijaksana posisi Anda, syukur-syukur punya wawasan dan ilmu yang cukup untuk membantu Anda menemukan solusi.
  5. Curhatlah pada orang yang profesional. Dimana dia memang profesinya adalah mendengar keluh kesah. Ditambah lagi dia pasti bisa menjaga kerahasiaan Anda, sebagai bagian dari kode etik profesinya. Plus yang spesial adalah dia pasti memiliki latar belakang ilmu dan pengetahuan untuk membantu melihat permasalahan Anda dari perspektif yang berbeda dan realistis. Sehingga Anda bisa kembali optimis dan bersemangat dalam menghadapi permasalahan Anda.
    Jika Anda memusingkan tentang biaya berkonsultasi dengan profesional, coba pikirkan juga dampak besar yang akan Anda dapatkan setelah melakukan curhat dengan profesional. Bisa jadi biaya yang Anda keluarkan sangatlah kecil dibandingakn dengan manfaat yang Anda dapakan.
  6. Bukalah hati dan pikiran Anda ketika menerima perspektif dari profesional. Sehingga perspektif baru bisa menjadi pencerahan pikiran Anda.
  7. Tetaplah menyadari bahwa Anda-lah yang bertanggung jawab tentang penyelesaian masalah Anda ini. Bukan profesional atau kerabat yang Anda curhati. Hindari melimpahkan masalah pada mereka. Atau menggantungkan solusi pada mereka. Jika ini yang terjadi, maka mengindikasikan Anda akan sulit lepas dari permasalahan Anda.

Untuk bisa curhat dengan profesional, Anda bisa ambil smartphone Anda kemudian kirim pesan WA ke 085105224499 untuk informasi dan penjadwalan konsultasi.

Semoga bermanfaat…

Akhirnya bisa lepas dari kegelisahan dan depresi bertahun-tahun…

active activity balance beach
Photo by Pixabay on Pexels.com

Senang sekali mendengar kabar dari Dedi (bukan nama sebenarnya). Seseorang yang selalu hidup dalam kegelisahan dan kemarahan yang telah teraduk menjadi satu sejak puluhan tahun lalu. Apakah Anda juga mengalaminya dalam hidup Anda ??

Sekilas tentang Dedi, dimana dia mengalami rasa ketidak percayaan diri dalam memutuskan sesuatu. Rasa takut membuat keputusan yang salah, takut rugi, takut dimarahi, dan ketakutan-ketakutan yang lain. Membuatnya menjadi depresi dan tidak berdaya. Ditambah lagi dengan statusnya sebagai seorang suami. Dimana dia memiliki keyakinan bahwa suami itu harus mengayomi istri dan anak-anaknya. Suami harus bisa menjadi sandaran dan pelindung keluarganya. Sedangkan dia sendiri merasa tidak punya kepercayaan diri untuk memutuskan sesuatu.

Disamping itu dia pun memiliki kemarahan pada orang tuanya. Dimana dia menyadari penyebab ketidak percayaan dirinya adalah karena dia, meskipun anak pertama, sejak kecil tidak pernah diberikan kepercayaan untuk memilih pilihan hidupnya sendiri. Mulai dari pakaian hingga hobby, semuanya serba ditentukan oleh mamanya. Hingga saat dewasa pun dalam memilih pekerjaan, membeli rumah, hingga menentukan pesta pernikahan pun ditentukan oleh mamanya.

Kondisi ini membuat Dedi mengalami kegelisahan dan kemarahan sepanjang hidupnya. Suatu pergumulan batin antar kepribadiannya sendiri yang berlangsung setiap saat. Keinginan pribadi vs Bayang-bayang mamanya; Impian pribadi vs Pengalaman kecewa; Marah pada mamanya vs Keinginan menjadi anak yang berbakti; dan berbagai pegumulan batin lainnya. Ibaratnya luka batin di masa kecil, masih menganga hingga dewasa saat ini. Masa kecil yang kurang bahagia, terbawa hingga dewasa.

Hingga suatu saat Dedi memantabkan dirinya. Dia ingin menjadi suami yang berprinsip. Sehingga bisa menjadi sandaran istri dan anaknya. Namun dia masih kebingungan, hal apa yang harus dia lakukan. Mindset apa yang harus dibenahi terlebih dahulu.

Dedi kemudian bertemu dengan saya untuk berkonsultasi. Dalam diskusi yang kami lakukan saat itu, dibantu dengan tes psikologi dan Point Of You. Akhirnya Dedi menemukan sejatinya siapa dirinya, ketika terlepas dari dominasi mamanya. Ditambah dengan hipnoterapi dan motivasi, Dedi semakin mantab untuk memperbaiki dirinya. Memiliki prinsip hidup yang kuat dan bahagia, bisa menjadi pengayom istri dan anaknya, tanpa harus memendam dendam pada mamanya.

Bahagia tak terkira ketika siang ini Dedi menghubungi saya. Dengan nada bahagia dia menceritakan bahwa dia telah berani mengambil keputusan. Sebuah keputusan sederhana, namun sangat berpengaruh pada seluruh hidupnya. Sehingga dia sekarang merasa sangat jauh lebih bahagia daripada sebelumnya. Dengan kata lain, Dedi telah berhasil menindaklanjuti diskusi kami. Sehingga luka batinnya satu per satu menutup dan akhirnya sembuh.

Anda ingin mengalami kebahagiaan seperti yang dialami Dedi ????

Ambil smartphone Anda sekarang. Lalu kirim pesan WA ke 085105224499 untuk membuat appointment konsultasi dengan saya.

Bagaimana saya bisa dapatkan Rp 100 juta

uang-tunai.jpg

Suatu saat seseorang datang pada saya bermaksud untuk minta bantuan dalam mengurai keruwetan pikirannya. Sehingga obrolan kami pun diawali dengan tema-tema yang terkesan tidak penting dan tidak jelas. Sambil menemukan pangkal keruwetan pikirannya yang akhir-akhir ini memicu kecemasan dalam hatinya.

Anggap saja dia bernama Deny (bukan nama sebenarnya). Seorang pebisnis bidang entertainment yang telah menekuni bisnis ini sejak puluhan tahun yang lalu. Dengan klien dari berbagai genre. Baik di Indonesia ataupun di Amerika dan Eropa.

Hingga pada suatu tema pembicaraan, dimana Deny  bercerita dengan penuh perasaan. Dimana dia keheranan dengan kejadian-kejadian yang terjadi dalam bisnisnya. Setiap dia ingin mendapatkan projek senilai Rp 100 juta selalu gagal didepan mata. Padahal semua persyaratan sudah dia penuhi. Hanya tinggal menunggu hari penandatanganan kontraknya saja. Ada saja hal yang membuatnya batal.

Hal yang membuat gusar Deny adalah, mengapa setiap ingin mendapatkan projek senilai Rp 100 juta selalu gagal. Padahal untuk mendapatkan projek senilai Rp 90an juta, sudah biasa baginya. Padahal hanya selisih sedikit saja, sulitnya minta ampun. Hingga tanpa sadar hal ini menguras energi psikologisnya.

Obrolan sore itu semakin bergeser dan bergeser. Hingga menyentuh ranah pengalaman masa kecil Deny bersama orang tuanya. Dimana salah satu pengalaman yang sangat membekas adalah pesan almarhum ayahnya yang berbunyi “le, donyo gak digowo mati” (nak, harta itu tidak dibawa mati). Pesan ini sangat merasuk dalam pikiran Deny.

Kemudian saya tanya pada Deny. Kenapa dia ingin projek senilai Rp 100 juta. Deny menjawab bahwa itu adalah impiannya dia. Sebuah kebanggaan baginya mendapatkan projek senilai sekian.

Jawaban Deny inilah yang memantik kata “Aha…..” dalam benak saya. Bisa jadi keyakinan dari pesan almarhum ayah Deny inilah yang memicu terjadinya self sabotage atau sabotase diri sendiri. Semacam benturan anatar dua software pikiran. Atau pertraungan dua kepribadian. Satu kepribadian ingin menerapkan pesan almarhum ayah, yakni hidup sederhana tanpa mementingkan harta. Sedangkan keperibadian yang lain ingin mendapatkan kebanggaan berkaitan dengan harta.

Kemudian saya mencoba menemukan keyakinan-keyakinan yang lain tentang kehidupan pada kepribadian Deny. Hingga saya menemukan satu keyakinannya yang bisa selaras dengan keinginannya mendapatkan projek senilai Rp 100jt. Sehingga kedua kepribadian yang awalnya bertolak belakang. Selanjutnya bisa berjalan selaras mewujudkan impian. Tetap hidup sederhana, dengan penghasilan lebih besar, dan persiapan bekal mati yang lebih dari sebelumnya.

Hingga seminggu kemudian, saya mendapatkan pesan text dari Deny, bahwa ia sudah berhasil mendapatkan projek senilai Rp 100juta. Dengan hati yang semakin bahagia dan ikhlas. Sangat berbeda dari kondisi sebelumnya.

Kondisi yang dialami Deny, yakni benturan antar kepribadian, bisa saja terjadi pada siapa saja. Termasuk Anda ataupun kerabat dan teman Anda. Oleh karena itu, saya berikan Anda informasi kontak kami :

Media Sugesti :
Phone & WA 0851 0522 4499
Atau klik link ini info konseling

Saya nggak bisa melakukan unschooling

Dulu ketika saya awal-awal mengenal unschooling, sempat bingung untuk mendapatkan informasi lebih detil tentang unschooling. Komunitas belum ada, blog ataupun akun sosmed tentang unschooling pun belum ada yang bikin. Yang lebih mudah ditemukan adalah informasi tentang homeschooling. Padahal bukan itu yang saya cari.

Saat itu memang sulit menemukan penjelasan tentang apa itu unschooling. Berbeda halnya dengan metode schooling. Dimana informasinya bertebaran dimana-mana. Mulai dari teori, metode, panduan, hingga penawaran-penawaran sekolah dengan berbagai programnya.

Setelah saya memahami unschooling, dan dengan mantap menganutnya. Baru saya sadar. Bahwa unschooling bukan gerakan sosial, apalagi produk jasa pendidikan. Unschooling adalah bentuk kesadaran orang tua yang memberikan pendidikan pada anaknya sesuai potensi, kepribadian, serta nilai-nilai dalam keluarganya. Dimana setiap keluarga memiliki nilai-nilai unik, serta kemampuan masing-masing. Itulah sebabnya para unscooler (sebutan untuk penganut unschooling) tidak suka koar-koar tentang unschooling. Para unscooler lebih suka untuk fokus menjadi fasilitator belajar anaknya.

Saya pun demikian juga. Setelah saya pikir-pikir, apa manfaatnya koar-koar tentang unschooling yang saya anut. Rasanya lebih bermanfaat bagaimana saya membantu anak saya untuk belajar berbagai hal yang menjadi minatnya dan sesuai bakatnya.

Saya baru bercerita bahwa saya adalah unschooler ketika saya ditanya “anaknya kelas berapa”. Saat itulah saya baru buka kartu. Bahwa anak saya unschooling.

Ada dua respon yang sering muncul ketika kawan mendengar jawaban saya. Respon pertama, hanya “Oooooo…”. Sudah. Kemudian saya pun merasa tidak perlu menjelaskan tentang apa itu unschooling.

Respon kedua adalah keheranan. Biasanya sambil dahi mengkerut dan bertanya “apa itu unschooling?”. Pada respon ini saya menjelaskan tentang apa itu unschooling dan bagaimana prosesnya.

Diantara berbagai respon orang yang mendengar penjelasan saya. Ada beberapa respon yang menarik. Diantaranya adalah:

  • “Itu metode pendidikan yang sulit. Tidak semua orang tua bisa menerapkan unschooling.”
  • “Saya nggak bisa melakukan unschooling. Saya jarang dirum”

Mendapatkan respon seperti ini batin saya pun berbisik sambil tersungging. “Siapa yang ngajak Anda untuk menganut unscoolling. Hehehehe…”

Karena saya ditanya anak saya kelas berapa, maka saya bercerita tentang unschooling. Kalau tidak ditanya, ya saya nggak akan cerita. 😁😁

Memang betul, bahwa orang tua harus memiliki kesiapan mental dan pengetahuan yang cukup, ketika memutuskan memilih unschooling. Jika tidak memiliki kesiapan tersebut sebaiknya memilih metode yang mainstream saja.

Unschooling bukanlah gerakan sosial atau layanan jasa pendidikan. Jadi tidak perlu untuk mengajak, apalagi menggalang masa.

Unschooling adalah metode pendidikan yang berdasar kesadaran serta kesediaan orang tua untuk mendidik anak secara mandiri. Dan menjadi fasilitator belajar anak sesuai potensi dan kepribadiannya.

#KataMasOkta

Deschooling adalah…

Deschooling adalah pemikiran yang meyakini bahwa kesuksesan seseorang tidak tergantung dari pengalaman belajar di sekolah formal. Sehingga kepemilikan ijazah formal pun dianggap tidak memberikan manfaat besar dalam kesuksesan seseorang.

Pemahaman deschooling wajib dimiliki oleh para orang tua yang menganut metode unschooling untuk anaknya. Dengan demikian orang tua sudah mempersiapkan dirinya untuk menghadapi segala pertanyaan, hingga cercaan lingkungan yang belum memahami tujuan unschooling.

Ketika orang tua belum melakukan deschooling, ada baiknya hindari untuk memilih metode pendidikan unschooling. Karena orang tua masih menganggap penting (bahkan mungkin sakral) pengalaman belajar di sekolah. Sehingga ijazah pendidikan formal pun mutlak untuk dimiliki anaknya.

Orang tua yang sudah melakukan pemahaman deschooling, akan beranggapan bahwa :

  1. Tujuan pendidikan adalah untuk membekali anak agar bisa hidup mandiri.
  2. Pendidikan yang utama adalah dilakukan oleh orang tua.
  3. Belajar adalah proses memasukkan pengetahuan dan pengalaman, yang bermanfaat untuk hidup anak.
  4. Belajar tidak harus di sekolah formal. Dan tidak harus mengikuti kurikulum sekolah formal.
  5. Materi belajar harus sesuai dengan potensi dan kepribadian anak. Sehingga anak bisa fokus belajar materi-materi yang sesuai dengan potensi dan kepribadian nya saja. Dan yang pasti belajar dengan bahagia. Yang kemudian bisa mudah dia aplikasikan dalam kehidupannya.
  6. Untuk anak bisa sukses, yang dibutuhkan adalah keahlian dan karakter. Bukan ijazah sekolah formal.

Meskipun pemahaman deschooling ini mungkin masih sulit dipahami kebanyakan orang. Namun semakin banyak orang juga semakin memahami deschooling, dengan dasar mengamati fenomena kehidupan saat ini.

Bagaimana dengan Anda?

#KataMasOkta

Bagaimana masa depan anak Unschooling ??

Seringkali kawan-kawan yang baru mengenal Unschooling bertanya tentang “Bagaimana masa depan anak Unschooling?”

Sebuah pertanyaan yang logis bukan ?! Apalagi diketahui bahwa anak Unschooling tidak mengenyam pendidikan formal. Sehingga tidak punya ijazah formal.

Ini sebenarnya pangkal pertanyaannya. Bagaimana masa depan anak yang tidak memiliki ijazah formal? Bisakah dia bekerja di masa depan?

Apakah Anda juga memiliki pertanyaan demikian ? 😊

Yang pasti, jika kita bicara tentang masa depan. Sama-sama tidak ada yang bisa memastikan. Hanya Tuhan lah yang maha tahu tentang masa depan. Kita hanya bisa memprediksi apa yang akan terjadi di masa depan.

Orang tua pun memiliki prediksi masa depan anaknya. Itulah sebabnya pada awalnya orang tua memilihkan metode pendidikan yang cocok dengan kepribadian anaknya dan prospek di masa depan.

Sekali lagi kita hanya bisa memprediksi, bukan memastikan. Jadi apakah Anda penganut Schooling, Homeschooling, ataupun Unschooling, sangat tidak elok jika memastikan masa depan. Sekali lagi, semua hanya prediksi. Dan setiap orang tua memiliki prediksi nya masing-masing.

Sekedar renungan, berkaitan dengan prediksi masa depan anak Unschooling. Jika anak unschooling tidak punya ijazah formal dianggap tidak punya masa depan yang jelas. Perbandingannya adalah, apakah anak yang memiliki ijazah formal pasti memiliki masa depan yang cerah ? Belum tentu juga kan?! 😊

Jika anak unschooling di masa depan dianggap tidak bisa mendapatkan pekerjaan. Perbandingannya apakah anak yang non-unschooling dijamin pasti bisa mendapatkan masa depan? Belum tentu juga kan ?! 😊

Jika anak unschooling dikhawatirkan akan minder. Apakah anak yang non-unschooling dijamin tidak minder? Belum tentu juga kan ?! 😊

Jika anak unschooling dianggap tidak bisa disiplin. Apakah anak non-unschooling pasti disiplin? Belum tentu juga kan ?! 😊

Jika anak unschooling dianggap tidak memiliki etika yang baik. Apakah anak non-unschooling pasti memiliki etika yang baik ? Belum tentu juga kan ?! 😊

Pada dasarnya Schooling, Homeschooling, ataupun Unschooling sekedar pilihan metode yang Anda (sebagai orang tua) yakini akan mendukung kesuksesan anak Anda.

Kesuksesan yang sebenarnya, bukan disebabkan Anda memilih metode Schooling, Homeschooling, atau Unschooling untuk anak Anda. Kesuksesan yang sebenarnya akan terwujud jika:

  1. Anak mengenali tujuan hidupnya.
  2. Anak mengenali kelebihan-kekurangannya; hal yang dia sukai-tidak disukai; hal yang dia butuhkan-tidak dibutuhkan; dll.
  3. Anak bersedia belajar pelajaran yang selaras dengan tujuan hidupnya.
  4. Anak bersedia berjuang / bekerja sesuai dengan potensi, dan selaras dengan tujuan hidupnya.
  5. Anak memiliki etika yang sesuai dengan lingkungan dia berada.

Nah… Sekarang giliran Anda sebagai orang tua, metode apa yang menurut prediksi Anda bisa membekali anak Anda dalam mewujudkan kesuksesannya ?

Semoga Anda dan kita semua bisa memberikan fasilitas belajar terbaik untuk anak. Serta bisa menjadi teladan anak dalam perjuangan mewujudkan kesuksesannya.

#KataMasOkta