Asal usul Sekolah

Sejarah Sekolah

Sejarah asal-usul sekolah dan istilahnya dimulai pada zaman Yunani Kuno. Dahulu, orang lelaki Yunani dalam mengisi waktu luang mereka dengan cara mengunjungi sesuatu tempat atau seseorang yang bijaksana untuk bertanya atau mempelajari hal-hal maupun perkara yang mereka rasa perlu diketahui. Mereka menyebut kegiatan itu dengan istilah scola, skhole, scolae atau schola. Keempat-empatnya memiliki arti yang sama, yaitu “waktu luang yang digunakan secara khusus untuk belajar.”

Lama-kelamaan, kebiasaan mengisi waktu luang untuk mempelajari sesuatu itu akhimya tidak lagi semata-mata menjadi kebiasaan dalam lelaki di masyarakat Yunani Kuno. Kebiasaan itu akhirnya diikuti oleh kaum perempuan dan anak-anak.

Disebabkan desakan perkembangan kehidupan yang kian beragam dan mengambil waktu orang tua, maka si ayah dan si ibu merasa tidak punya waktu lagi untuk mengajarkan banyak hal kepada anak-anak mereka. Oleh karena itu, mereka kemudian mengisi waktu luang kepada anak-anak mereka dengan cara menyerahkannya kepada seseorang yang dianggap bijaksana di suatu tempat tertentu.

Di tempat itulah, anak-anak boleh bermain, belajar atau berlatih melakukan sesuatu apa saja yang mereka anggap patut dipelajari dan sampai saatnya kelak mereka harus kembali ke rumah menjalankan kehidupan orang dewasa sebagaimana lazimnya.

Sejak itulah, terjadi pengalihan sebagian dari fungsi scola matterna (pengasuhan itu sampai usia tertentu), yang merupakan proses dan lembaga sosialisasi tertua umat manusia, menjadi scola in loco parentis (lembaga pengasuhan anak-anak pada waktu senggang di luar rumah sebagai pengganti ayah dan ibu).

Akhirnya, lembaga pengasuhan atau pendidikan sebagai tempat pengasuhan dan pembelajaran anak-anak pada waktu senggang di luar rumah sebagai pengganti orang tua disebut almamater (alma mater) yang memiliki makan “ibu yang mengasuh” atau “ibu yang memberikan ilmu”.

Dengan demikian pengertian sekolah sebenarnya adalah tempat mengembangkan bakat, minat, rasa “ceria” untuk belajar, menjadi manusia yang berilmu, berasa bebas untuk menjadi manusia yang diinginkannya. Bukan seperti saat ini dimana sekolah sepertinya sebuah tempat yang dipaksa untuk mengikut kurikulum tertentu yang bisa menimbulkan “kebencian” dan kebosanan untuk belajar.

+++++
Sumber copas : http://padamu.net/pengertian-dan-sejarah-sekolah

Cara Menghindari “Star Syndrome”…

Star Syndrome adalah sebuah satu ciri-ciri, simtom, atau tanda-tanda tentang perasaan sebagai seorang bintang (star). Orang-orang yang terjangkit star syndrome merasa dirinya adalah seorang bintang, selebritis, atau orang penting. Sehingga perilakunya mencontoh perilaku selebriti, namun sesuai dengan persepsinya sendiri. Setidaknya perilaku selebritis yang dicontoh adalah seperti yang dia anggap tertayang di film, terkabar di infotainment, atau sesuai praduganya sendiri.

Orang yang rawan terkena star syndrome adalah orang yang biasa-biasa saja. Perhatian dari lingkungan pun biasa-biasa saja padanya. Namun pada suatu momen dia mendapatkan perhatian lebih dari masyarakat. Ada hal yang membuatnya menjadi spesial. Bisa jadi karena dia berprestasi di suatu bidang, atau berjasa pada suatu peristiwa, atau apapun. Atau bisa juga menjangkiti seseorang yang baru saja menjadi public figure. Misalnya penyanyi, seniman, pejabat kampung, motivator, ustad, dosen, dan lain-lain, yang baru saya mendapat perhatian dari masyarakat melalui profesinya tersebut.

Kondisi orang yang mengalami star syndrome mirip dengan orang yang mengalami “waham kebesaran”.

Ciri-ciri star star syndrome :

  1. Merasa dirinya orang terkenal.
  2. Hanya menggunakan produk terkenal saja. Atau malu menggunakan produk dengan brand biasa-biasa saja.
  3. Hanya makan di tempat makan berkelas tinggi.
  4. Selalu minta fasilitas tertinggi.
  5. Merasa orang lain harus tunduk dan hormat padanya.
  6. Maunya selalu harus dilayani, disambut, dan dielu-elukan.
  7. Enggan menjalin komunikasi dengan orang yang strata sosialnya biasa-biasa saja. Terkadang senyum pun enggan.
  8. Mendominasi pembicaraan dengan tema kelas tinggi.
  9. Merasa harus tampil sangat sempurna.

Dampak negatif dari orang-orang yang terkena star syndrome adalah, pada umumnya dirinya sangat melekat dengan persepsi dirinya sebagai bintang. Sehingga ketika terjadi kondisi dimana ke-bintang-an-nya tercabut, terabaikan, atau ada orang yang lebih star dari dia. Maka dia akan rawan mengalami depresi dan bahkan mengalami psikosomatis. Yakni penyakit fisik yang disebabkan oleh ketertekanan kondisi psikologis.

Cara menghindari star syndrome :

  1. Yakini bahwa kehebatan Anda adalah milik Tuhan. Bukan milik Anda. Ya kebetulan saja saat momen tersebut Tuhan menitipkan secuil kehebatanNya pada Anda.
  2. Yakini bahwa segala film dan berita selebriti adalah dirancang untuk hiburan saja. Bukan untuk wajib diteladani.
  3. Membiasakan diri selalu rendah hati. (bukan rendah diri).
  4. Yakini bahwa setiap orang memiliki keunggulannya masing-masing. Dan setiap keunggulan ini memiliki masa berlaku sesuai kehendak Tuhan.
  5. Ketika keunggulan yang Anda miliki, tercabut atau tersaingi. Yakini bahwa Tuhan pasti memberikan Anda peluang yang lain untuk Anda tetap bertahan dalam kehidupan ini.
  6. Perpanyak referensi tentang kehidupan dari berbagai strata sosial. Termasuk para orang hebat yang tetap rendah hati.

Semoga segala keunggulan Anda menjadikan Anda semakin rendah hati bagai padi yang makin berisi, makin merunduk.

Semoga bermanfaat….

#RenunganPerjalanan #TerapiPikiranBahagia #KataMasOkta #KataMotivasi

++++++++++++++++++++

Appointment konsultasi motivasi & hipnoterapi / seminar motivasi & seminar parenting

WA: 085105224499

Mengenal Chanel Pikiran Anak

*Mengenal Chanel Pikiran Anak*

Manusia itu mirip komputer, memiliki hardware dan software. Dimana juga memiliki chanel, seperti televisi atau handphone. Segala informasi yang dipahami seseorang, pasti telah melalui chanel yang sesuai dengan orang tersebut. Mirip seperti kontak WhatsUp. Ketika saya mengirim pesan ke Anda via WhatsUp, namun nomornya salah satu digit, apakah pesan tersebut akan sampai pada Anda ??  Pasti tidak. Pesan akan sampai jika chanelnya tepat.

Bisa Anda bayangkan jika antara Anda, sebagai parents, dan anak Anda, saling tidak memahami chanelnya masing-masing. Bisa dipastikan pesan yang disampaikan akan sulit dipahami. Anak menjadi sulit menerima pesan parentsnya, dan parents juga kesulitan memahami maksud anaknya.

Terkadang sebagian masyarakat cenderung memberikan stigma tertentu pada anak. Misalnya anak nakal, atau anak pintar. Berdasarkan perilakunya. Padahal salah satu faktor penyebab perilaku anak adalah chanel pikiran ini. Dan chanel pikiran ini sama sekali tidak berhubungan dengan kenakalan atau kepintaran.

Terdapat tiga chanel utama pada setiap orang. Pada umumnya hanya salah satu atau dua saja yang dominan pada seseorang. Meskipun ada beberapa orang yang ketiga chanelnya sama-sama dominan. Sebagian orang menyebutnya dengan istilah “Akses Modalitas”.

Tiga chanel pikiran yakni :

1. Chanel VISUAL

Orang yang dominan chanel VISUAL adalah orang yang mudah menerima informasi dengan cara melihat.

Ciri-ciri orang yang dominan visual :

  • Jika di kelas atau tempat pertemuan, suka memilih duduk di depan. Sehingga dia mudah melihat presentasi dan orang yang menyajikannya.
  • Duduk tenang memperhatikan. (bahasa Jawa : “anteng”)
  • Memilih pakaian yang indah dipandang. Baik dari sisi warna maupun modelnya.
  • Jika diberikian nasihat, lebih cepat memahami dan bertindak.

 

2. Chanel AUDITORI

Orang yang dominan chanel AUDITORI adalah orang yang mudah menerima informasi dengan cara mendengar. Konon jumlah orang berchanel auditoti ini sangat sedikit sekali di dunia.

Ciri-ciri orang yang dominan auditori :

  • Mudah memahami informasi yang diceritakan, daripada yang dibaca atau dilihat.
  • Peka pada suara, termasuk frekuensi yang sulit didengar kebanyakan orang. Misalnya instrumen musik pada musik orcestra. Orang yang dominan auditori bisa mendengar satu-per satu intrument tersebut meskipun sedang dimainkan bersamaan.
  • Mudah terganggu dengan suara berisik.
  • Pada beberapa orang, jika sedang memperhatikan sesuatu, kepalanya cenderung serong. Seakan-akan mengedepankan telinganya daripada wajahnya.

 

3. Chanel KINESTETIK

Orang yang dominan chanel KINESTETIK cenderung mudah memahami informasi jika dia sambil bergerak, atau jika dia sudah mengalami sendiri informasi tersebut. Konon orang yang dominian chanel kinestetik ini jumlahnya sangat banyak sekali.

Ciri-ciri orang yang dominan kinestetik :

  • Banyak gerak. Sulit untuk duduk tenang. Hal ini sangat bertolak belakang dengan ciri orang yang dominan kinestetik yang cenderung tenang dan memperhatikan.
  • Pada anak TK dan SD sering ditemukan suka meraut pensil, atau mencuil-cuil penghapus karet hingga habis.
  • Memilih pakaian yang asal nyaman. Dan seringkali mengabaikan perpektif keindahan.
  • Lebih mementingkan isi atau substansi daripada kemasan.
  • Sering mencoba atau membuktikan sendiri suatu informasi. Hal inilah yang membuat orang yang dominan kinestetik terkesan bandel. Jika diberikan nasihat (beruapa suara) tidak langsung dilakukan.

 

Sebagai parents kekinian, sangat penting untuk memahami tiga chanel ini. Baik mengenali chanel diri sendiri, pasangan, dan juga anak. Sehingga bisa terhindar dari perdebatan yang sia-sia.

Bisa Anda bayangkan jika seorang ibu yang dominan chanel visual, dan memiliki anak yang dominan chanel kinestetik. Sang ibu cenderung tenang dan memperhatikan. Jika mendapatkan informasi atau nasihat, dia mudah membayangkannya dan mengkonfersinya menjadi perilaku nyata. Sedangkan sang anak banyak gerak, sulit duduk diam. Dan jika diberikan nasihat, sang anak tidak langsung melakukan. Namaun seperti membuktikannya dulu. Misalnya : “Nak, kamu di kamar dulu, lantai ruang tamu sedang di pel. Masih licin”.

Dalam kondisi ini, bisa jadi anak malah keluar kamar dan menuju ruang tamu. Dia tidak bisa memahami betul nasihat berupa ucapan ibunya. Namun, jika dia terpeleset, maka dia akan paham apa yang disebut dengan licin.

Begitu pula dengan cara belajar. Anak yang dominan chanel kinestetik akan banyak gerak. Dan jika ibunya dominan chanel visual, apalagi tidak memahami tentang tiga chanel pikiran ini. Maka sang ibu akan mudah untuk marahin anaknya dan memaksa anaknya untuk belajar dengan duduk tenang, dan fokus memperhatikan, seperti yang dilakukan ibunya. Dan jika anak kinestetik belajar dengan duduk diam tanpa ada kesempatan bergerak, maka bisa jadi dia akan sulit menyerap pelajaran.

Contoh tersebut memberikan pemahaman bahwa, setiap orang memiliki chanelnya masing-masing. Ketika parents memahami perbedaan masing-masing chanel ini, maka ia pun akan lebih mudah memfasilitasi belajar anak sesuai dengan chanelnya.

Semoga bermanfaat….

#ParentsKekinian #SeminarParenting #TerapiPikiranBahagia #KataMotivasi #KataMasOkta

Pesta Para Lansia Pagi ini

​*Pesta Para Lansia Pagi Ini*

Bersyukur pagi ini Tuhan memberikan kesempatan menikmati degub jantung yang menghentak, seiring kaki bertalu dalam joging pagi.

Indahnya lagi ketika melewati depan sebuah perbelanjaan modern, dimana diarea parkirnya tampak para lansia berkerumun. Secara rutin mereka melakukan senam pagi bersama di tempat itu. Tampak panitia dan pesertanya, semuanya lansia. Hanya 2 orang anak muda yang membantu menyiapkan panggung dan sound syatem untuk instruktur senam. Yang juga seorang lansia.

Renung pun berkelana melampaui jasad. Indahnya kehidupan para lansia ini. Ketika banyak diluar sana lansia yang memilih untuk terpuruk, meratapi nasib, memeluk erat kerentaan nya, menuntut masa silam harus terjadi  lagi sekarang, keras kepala yang mengalahkan pertobatan, menyerah pada kondisi dan enggan berjuang untuk bahagia.

Sedangkan para lansia disini begitu menikmati peran yang diberikan Tuhan padanya pada saat ini. Mungkin tenaga tak sekuat dulu, mungkin paras tak secantik dulu, mungkin kekuasaan tak segagah dulu, dan mungkin finansial tak sebanyak dulu.

Namun para lansia ini tahu caranya “berpesta”. Alih-alih meratapi kolesterol yang menghantui, mereka memilih tuk bersua kawan-kawannya. Bercanda bak remaja meski sama-sama lansia. Mungkin dalam benak mereka, andai tinggal sejenak masa nya di tempat fana ini, mereka memilih untuk bahagia. Apapun bentuk kerentaan yang melandanya, silaturahim akan membugarkan jiwa dan tubuhnya.

SALUT untuk embah, eyang, dan oma-opa yang selalu BERSEMANGAT menjalani hidup.
#RenunganPerjalanan #TerapiPikiranBahagia #KataMasOkta #KataMotivasi

Unschooling adalah…

TERINSPIRASI oleh seorang kawan yang telah menerapkan Unschooling pada putranya. Dimana saya dan istri mengikuti segala catatan-catatannya yang dibagikan melalui media sosial. Dan kamipun sering membagikannya kembali pada teman-teman kami. Mungkin Anda sudah bisa menebak, siapa orangnya. 🙂

Seiring waktu kami pun sepakat untuk menerapkan hal ini pada putra kami. Dimana saat artikel ini saya tulis, usia putra kami baru 2 tahun 3 bulan. Bagi kami, inspirasi dan informasi berkaitan dengan Unschooling yang dibagikan oleh kawan kami di media sosial, bagaikan pelita di lautan gelap. Sangat mencerahkan dan mengisnpirasi. Sehingga setelah melalui diskusi-diskusi panjang, maka kami sepakat menerapkan metode Unschooling pada putra kami.

Pada artikel ini, saya ingin berbagi dengan Anda, para parents kekinian, tentang apa itu metode Unschooling. Dan pertimbangan apa yang membuat kami menjadi jatuh hati pada metode Unschooling. Yang pasti, yang saya sharingkan disini adalah pemahaman Unschooling versi kami. Disamping pula pertimbangan-pertimbangan kami. Yang jelas kami tidak berupaya menjelekkan metode yang lain dan mengunggulkan Unschooling. Memilih metode pendidikan mirip memilih tempat dimana Anda akan makan malam bersama anak-anak Anda. Apakah Anda mau makan di restoran, warung kaki lima, mau makan di rumah saja, atau makan di tempat hajatan tetangga. Itu adalah pilihan Anda yang bebas Anda pilih sesuai kebutuhan dan konsekuensi yang bisa Anda tanggung.

Mengapa kami memilih Unschooling :

  1. Pada dasarnya yang berkewajiban mendidik anak adalah parents. Bukan lembaga sekolah dan perangkatnya.
  2. Pendidikan formal dan ijazah tidak menjamin seseorang menjadi sukses.
  3. Sering kami temukan metode pendidikan formal lebih menitik beratkan pada transfer hard skill (akademis) daripada soft skill (karakter dan perilaku). Meskipun kurikulum pendidikan formal sudah diarahkan lebih pada pembentukan soft skill, namun pada praktiknya masih belum berjalan sebagaimana mestinya.
  4. Sering kami temukan sebagian pendidik hanya menggunakan falsafah “Tut Wuri Handayani” (dari belakang memberikan dorongan / semangat) saja. Padahal dalam pendidikan anak dan orang dewasa, ajaran Ki Hajar Dewantara sangatlah lengkap. Yakni “Ing Ngarso Sung Tuladha” (didepan memberikan contoh / teladan); “Ing Madya Mangun Karso” (ditengah-tengah membangun semangat. Jika berada di-tengah, berarti juga harus memiliki kesetaraan. Bukan ekskusifisme); “Tut Wuri Handayani” (dari belakang memberikan dorongan / dukungan).

    Poinnya adalah anak lebih mudah belajar dengan cara meniru. Oleh sebab itu dibutuhkan teladan yang layak diteladani. Khususnya berkaitan dengan karakter, pola pikir, dan perilaku.

  1. Kami juga menemukan materi pelajaran di pola pendidikan formal yang tidak selaras dengan bakat anak, sehingga tidak aplicable pada kesuksessannya. Misalnya: anak yang memiliki keunggulan kecerdasan di bidang musik. Maka sebaiknya anak tersebut lebih banyak belajar tentang hal-hal yang berkaitan dengan kepekaan suara, memainkan alat musik, managemen pementasan, managemen keuangan pribadi, dan lain-lain yang selaras dengan bakatnya. Sehingga belajar tentang materi tumbuhan monokotil dan tumbuhan dikotil, bisa jadi kurang bermanfaat untuk anak yang berbakat di bidang musik ini.
  2. Dan berbagai alasan lainnya yang mungkin akan lebih elok jika saya ceritakan saat kita berbincang secara langsung.

Dari berbagai alasan kami tersebut, kami menyadari bahwa banyak hal yang tidak memungkinkan untuk dipenuhi oleh metode pendidikan formal. Seperti pada poin ke-5. Saya dan istri sempat berandai-andai. Jikasaja dulu waktu yang kami gunakan untuk belajar tentang unsur-unsur kimia pada waktu SMA, digunakan untuk melatih teknik public speaking, mungkin bisa jadi kesuksesan menjadi lebih cepat dan mudah tercapai.

Yang pasti bukan bermaksud menghujat masa lalu. Namun hal tersebut sebagai bahan refleksi, sehingga kedepan anak-anak kita memiliki waktu dan materi belajar yang efektif, sesuai dengan bakat dan mengantarkan pada kesuksessannya.

Nah,dari obrolan kita tadi, mungkin Anda telah bisa menduga tentang apa yang diesebut dengan metode “Unschooling” ?

Unschooling” atau dalam terjemaham kasarnya adalah “tidak sekolah”, adalah metode pendidikan yang diselenggarakan oleh parents sendiri. Kurikulumnya dirancang spesial oleh parents dengan menyesuaikan tingkat perkembangan psikologis, kepribadian, serta kecerdasan majemuk pada anak. Parents berperan memfasilitasi pendidikan anak. Bentuk aktivitas, dimana, menggunakan alat apa, siapa pemandunya, kursus apa, dan lain-lain dilakukan atas kehendak anak. Bukan arahan dari parents. Sehingga parents diwajibkan memiliki pengetahuan yang cukup berkaitan menjadi fasilitator dalam metode Unschooling ini.

Melalui metode Unschooling, anak akan belajar banyak hal yang selaras dengan kecerdasan majemuknya. Dan anak diharapkan bisa belajar dengan media yang nyata, dan dipandu oleh orang yang kompeten di bidangnya. Jadi misalnya belajar tentang menanam padi, ya langsung belajar di sawah, langsung terjun dengan kaki belepotan, menanam padi di sawah seperti petani. Dan dipandu oleh orang yang kompeten menjelaskan tentang proses menanam padi. Baik cara menanamnya, hingga proses mengolahnya hingga menjadi beras. Bukan sekedar mendengar cerita ataupun menyaksikan rekaman video. Namun langsung sesuai dengan kenyataannya. Pada materi pembelajaran yang lain pun demikian. Sehingga konsekuensi proses belajar (waktu, biaya, dll) sebaiknya perlu benar-benar dipertimbangkan oleh Anda yang ingin memutuskan memilih Unschooling untuk anak Anda.

Berkaitan dengan IJAZAH, seperti yang diharapkan kebanyakan orang pada akhir proses belajar formal. Pada metode Unschooling ini sangat berbeda. Karena Unschooling tidak mementingkan ijazah. Meskipun akhir dari proses belajar adalah bekerja (meskipun dalam bekerjapun juga tetap harus belajar J ), pada kenyataannya tidak semua pekerjaan membutuhkan ijazah. Bahkan banyak orang bisa memiliki kehidupan yang spektakuler, tanpa menggunakan ijazah. Jadi jika Anda adalah tipe parents yang ijazah oriented, maka metode Unschooling sepertinya kurang cocok untuk anak Anda.

Konsekuensi parents yang memilih metode Unschooling :

  1. Waktu harus sangat lebih banyak untuk anak, daripada untuk pekerjaan.
  2. Biaya belajar mungkin lebih besar daripada jika anak belajar formal.
    Jika belajar formal, pengeluaran rutin adalah untuk biaya sekolah. Namun jika Unschooling, dibutuhkan biaya dan waktu untuk mengantar ke tempat belajar. Misalnya ke sawah, camping, ke museum, lokasi bersejarah, dan lain sebagainya. Belum lagi biaya untuk bahan belajar. Misalnya belajar tentang tepung. Maka bisa jadi dapur Anda akan diselimuti tepung yang berhamburan, yang misalnya dikumpulkan bisa dibuat untuk 1 kue donat.
  1. Rumah dan mobil Anda, bisa jadi akan berantakan. Karena semua benda adalah bahan belajar. Apakah itu pensil warna, arang, dacron bantal, lampu pijar, kain pel dan lain sebagainya.
  2. Gengsi tempat sekolah dan ijazah yang tidak akan Anda temukan di Unschooling.
    Unschooling di masyarakat sini belum dikenal baik. Yang ada adalah ngengsi anaknya disekolahkan dimana, nilainya berapa, ijazahnya apa. Sedangkan Unschooling lebing mengedepankan pembentukan karaketer dan keterampilan hidup.
    Jika Anda tetap menganggap kesuksesan anak bagaikan perlombaan antar sesama parents. Coba Anda pikirkan lagi, silahkan tentukan dimana letak finishnya. Apakah ketika anak belajar di sekolah favorit tertentu dan berhasil mendapatkan nilai sempurna. Atau ketika anak berhasil memiliki kehidupan yang mandiri, santun dengan orang yang lebih tua, serta mampu menyelesaikan masalah hidupnya.

Hal-hal yang perlu dipahami parents sebelum memutuskan untuk memilih Unschooling :

  1. Fase perkembangan psikologis dan fisik anak.
    Bahwa setiap usia manusia memiliki tugas perkembangan psikologis dan fisiknya masing-masing. Dengan memahami fase perkembangan fisik dan psikologis anak, maka Anda akan bisa membantu merancang pembelajaran apa yang bisa ditawarkan pada anak. Misalnya kapan sebaiknya anak boleh belajar tentang hujan. Yang pasti dengan bermain hujan-hujan.
  1. Kecerdasan majemuk anak.
    Terdapat beberapa kecerdasan majemuk pada manusia. Anda bisa mendeteksi kecerdasan majemuk anak Anda dengan cara observasi perilaku yang senang dia lakukan tanpa disuruh dan berkesinambungan. Dengan pula didukung oleh hasil tes potensi diri melalui sidik jari. Atau juga tes psikologi minat bakat.
    Dengan mengetahui kecerdasan majemuk anak Anda, maka Anda bisa merancang bidang belajar apa yang Anda tawarkan. Misalnya berkaitan dengan bahasa, matematika, musik, alam, dll.
  1. Trend kesuksesan di masa depan.
    Setiap masa memiliki trend sukses yang berbeda. Di masa lalu, orang yang memiliki status pendidikan formal-lah yang mendapatkan kehormatan dan kesuksesan. Sebaliknya orang yang tidak berpendidikan formal, dianggap kaum marginal.
    Sedangkan pada masa sekarang, fenomenanya banyak orang berpendidikan tinggi, strata sosial yang tinggi, namun memiliki kualitas hidup yang rendah. Bahkan sering kalah dengan orang-orang yang kurang memiliki latar belakang pendidikan formal.
    Bercermin dari kondisi masa lalu dan masa sekarang. Maka bisa jadi di masa depan, orang yang sukses adalah orang yang memiliki kompetensi, semangat juang yang tangguh, memiliki etika, dan mampu memanfaatkan peluang, serta mampu menjadi LEADER bukan FOLLOWER.

Sebagai parents, saya berharap dengan menerapkan Unschooling, saya bisa mendukung anak saya untuk mengaktualisasikan segala potensinya, sehingga bisa bermanfaat untuk umat manusia se-dunia.

Semoga bermanfaat. 🙂

#Oktastika #KataMasOkta #MetodeUnschooling

Kenapa harus belajar PARENTING

MENGAPA SIH HARUS BELAJAR PARENTING ??   Pertanyaan inilah yang sering saya dapatkan dari para parents ketika saya ajak untuk berdiskusi tentang parenting. Apalagi parents yang telah memiliki beberapa anak. Dimana mereka merasa telah berpengalaman dalam hal parenting. Dan bisa jadi mereka juga memiliki keyakinan bahwa parenting tidak perlu diplajari. Cukup mengcopy-paste pola asuh yang diterapkan parents kita dulu, pada anak-anak kita jaman sekarang.

Apakah Anda juga berpendapat demikian ??

PARENTING pada dasarnya memiliki makna pola asuh / pola pendidikan yang diterapkan parents pada anaknya. Jadi konteks belajar parenting adalah belajar tentang bagaimana mengasuh dan mendidik anak dengan baik, sehingga anak memiliki “software pikiran” yang sesuai dengan harapan parents.

Menariknya adalah, jaman semakin berkembang dengan berbagai pernak-perniknya. Arus informasi yang semakin menggelobal, lahirnya berbagai teknologi yang memudahkan aktivitas, yang kemudian berdampak pada perkembangan budaya dan pola hidup. Contohnya saja, saat ini lebih banyak orang hidup dengan gadget. Segala kegiatan hidupnya bisa dilakukan dan dikendalikan melalui gadget. Termasuk pula dengan etika, mungkin dulu jika parents Anda sudah melotot, mungkin Anda sudah takut. Namun sekarang, mungkin Anda sudah ngomel seluas jagad raya-pun, anak Anda masih cuek bebek. Apakah Anda pernah mengalaminya ?

Belajar tentang parenting, pada dasarnya adalah Anda sebagai parents diajak untuk meng-update (memperbarui) informasi tentang perkembangan jaman yang terkait dengan parenting. Apakah berkaitan dengan pola komunikasi, perkembangan budaya, hingga pemanfaatan teknologi untuk kebaikan bersama. Ketika parents mendidik anaknya dengan pola parenting jaman dulu (jadul), maka pasti akan terjadi kesenjangan, atau hal yang tidak diharapkan. Contoh: Ketika anak dilarang menggunakan internet. Maka bisa jadi dia di rumah tidak pernah menunjukkan pada Anda bahwa dia telah mengakses internet. Namun diluar, dia bisa mengakses dengan meminjam HP temannya, atau menggunakan fasilitas internet di tempat umum. Seperti di perpustakaan kota misalnya.

Itu baru salah satu contoh kecil berkaitan dengan internet. Belum lagi berkaitan dengan mencerna informasi di televisi, berita di koran, posting medsos, dan lain sebagainya. Setidaknya ada beberapa hal yang perlu Anda pelajari ketika Anda belajar PARENTING :

  • Memahami perbedaan kondisi psikologis setiap usia perkembangan anak. Pola asuh yang salah usia, bisa saja menjadikan anak menjadi manja atau bahkan trauma.
  • Memahami bahasa cinta anak. Hal ini berkaitan dengan cara yang tepat memberikan dukungan dan penghargaan pada anak. Kesalahan memahami bahasa cinta, akan membuat anak merasa tidak dihargai, meskipun parents-nya telah memberikan penghargaan.
  • Menemukan cara menggunakan teknologi secara tepat. Pemahaman ini akan membuat hubungan keluarga tetap terjalin indah, dengan tetap bisa menggunakan teknologi modern sesuai porsinya.
  • Cara memfilter informasi dan memaknai informasi yang sedang beredar. Baik di media masa, ataupun di media sosial. Dengan pemahaman ini maka anak akan selektif mengkonsumsi informasi.
  • Memahami kesenjangan antar generasi. Yakni memahami perbedaan pola asuh parents di masa lalu, dimana juga dipengaruhi oleh kondisi jaman saat itu. Kemudian dibandingan dengan kondisi jaman sekarang. Dengan memahami kesenjangan ini, maka parents bisa dengan bijaksana mengelola perasaan dan pengetahuannya dari pola asuh masa lalunya, kemudian dikembangkan dan disesuaikan dengan pola asuh yang dibutuhkan pada jaman sekarang.
  • Bagaimana mencegah pelecehan seksual, pelecehan fisik, hingga pelecehan psikologis. Serta bagaimana cara menanganinya jika hal tersebut sudah terlanjur terjadi.

Kurang lebih seperti itulah yang perlu kita sama-sama pahami tentang pentingnya belajar PARENTING. Semoga kita bisa menjadi parents kekinian yang bisa mendidik anak kita masing-masing sesuai jamannya.

 

#Oktastika

++++++++++

Appointment konsultasi, motivasi, hipnoterapi, seminar :

WA 085105224499

Tips melakukan Hypnoteaching – Hypnosis For Teaching – Hipnosis Untuk Pengajaran

Setiap awal tahun ajaran baru, seringkali saya mendapatkan undangan untuk berbagi tentang sebuah metode komunikasi yang hebat. Dimana metode ini bisa dengan mudah memasukkan informasi pada pikiran lawan bicara. Sehingga lawan bicara menjadi lebih mudah memahami apa yang kita maksudkan. Metode komunikasi yang hebat ini murni ilmiah, bukan menggunakan kekuatan ghaib, jin, ataupun kuasa gelap.

Metode ini sangat baik diterapkan oleh para pengajar di berbagai tingkatan. Mulai dari paud hingga perguruan tinggi. Metode ini membuat peserta didik menjadi lebih mudah memahami materi pelajaran, hingga menjadi senang belajar. Pengajar (guru) pun menjadi lebih mudah mengarahkan siswanya. Hingga ia sendiri terhindar dari stress.

Memang metode ini adalah salah satu aplikasi dari metode hipnosis ilmiah. (Untuk tahu apa itu hipnosis ilmiah bisa klik disini). Metode yang saya maksud adalah Hypnoteaching. Atau juga disebut Hypnosis For Teaching, atau juga Hipnosis Untuk Pengajaran.

Seperti telah diketahui sebelumnya, bahwa hipnosis adalah metode ilmiah untuk berkomunikasi dengan sistem pikiran. Seperti telah diketahui pula bahwa hipnosis bisa diaplikasikan di berbagai bidang. Salah satunya adalah di bidang pengajaran, dan disebut dengan Hypnoteaching.

Pada prinsipnya, aplikasi hypnoteaching adalah mematuhi karakter pikiran bawah sadar, serta sistem pikiran. Ketika pengajar menyajikan materi pelajarannya selaras dengan karakteristik pikiran bawah sadar, misalnya salah satunya adalah bahwa pesan yang mengandung emosi (bisa emosi positif ataupun emosi negatif) akan lebih mudah diserap. Maka materi pelajaran pun semakin mudah dipahami.

Tips melakukan Hypnoteaching :

  • Menyajikan materi pelajaran dengan menggunakan emosi. Khususnya emosi positif. Dan ini harus diawali dari pikiran dan hati sang pengajarnya terlebih dahulu. Ketika pelajaran disajikan dengan menyenangkan, maka pikiran bawah sadar siswa menjadi mudah menerima materi pelajaran tersebut.
  • Komunikasi selalu menggunakan kalimat positif. Sehingga pikiran bawah sadar mudah langsung merespon sesuai arah kalimat tersebut.
  • Selalu memberikan informasi melalui tiga chanel pikiran (akses modalitas), yakni visual, auditori dan kinestetik.
  • Poin belajar yang menjadi titik utama, disajikan dengan berulang-ulang. Sehingga membuat sinaps dalam otak menjadi terhubung.
  • Pancarkan signal frekuensi positif pada siswa Anda. Sehingga tanpa mereka sadari, pikiran mereka akan menggerakkan tubuhnya seperti harapan Anda.

Demikian sekilas ulasan tentang Hypnoteaching, atau Hypnosis for teaching, atau Hipnosis untuk pengajaran. Semoga bermanfaat.

#Oktastika

+++++++++++++++++++

Appointment konseling motivasi, hipnoterapi dan seminar :
WA 085105224499