ForBer = Forum Berbagi

ForBer

ForBer pada awalnya adalah komunitas alumnus peserta workshop hipnosis dan hipnoterapi yang diselenggarakan oleh Media Sugesti, dengan trainer Oktastika Badai Nirmala. ForBer awalnya bernama HypnoSharing Forum, yang diselenggarakan setiap hari Selasa, sekitar tahun 2009. (baca juga tentang Hypnosharing Forum)

Setelah dulu pernah diselenggarakan secara rutin, kemudian sempat non-aktif selama beberap waktu. Kini ForBer kembali aktif. Secara rutin diselenggarakan di Surabaya, setiap hari Selasa, jam 18:00.

Format pelaksanaan ForBer berubah-ubah sesuai kondisi. Yang pasti ForBer dilakukan secara GRATIS. Kebutuhan makanan dan minuman selama acara, dilakukan swadaya oleh teman-teman yang hadir. Biasanya ForBer diselenggarakan di cafe yang nyaman untuk ngobrol dengan menu yang harganya terjangkau.

ForBer terkadang diselenggarakan dengan mengusung tema tertentu, namun sering juga tanpa tema. Meski demikian, apapun formatnya, ForBer selalu berusaha menyajikan obrolan yang bermanfaat, berbobot namun mudah dipahami. Batasannya adalah menghindari obrolan yang berkaitan dengan ajaran agama, politik, dan SARA. Selain itu kami sangat senang kita saling berbagi pengetahuan dan pengalaman.

ForBer terbuka untuk siapa saja yang ingin mendapatkan dan berbagi pengetahuan dan pengalaman positif, yang pasti dengan mindset dan lingkungan positif pula. Apapun latar belakang keluarga Anda, latar belakang pendidikan Anda, kondisi keuangan Anda. Asal Anda berkenan untuk selalu meng-upgrade pemikiran Anda, maka ayo hadir ngobrol santai bersama kami.

Ikuti akun FaceBook Oktastika Badai Nirmala untuk mengetahui jadwal ForBer dan tempat acaranya.

Iklan

Panduan Memilih Unschooling

Seiring waktu, semakin banyak orang tua yang menyadari pentingnya kemandirian dalam memberikan pendidikan pada anak. Diantara mereka pun banyak yang mulai jatuh cinta dengan metode Unschooling. Sehingga mulai mencari informasi tentang apa itu Unschooling, dan bagaimana melakukannya.

Bagaimana dengan Anda, apakah Anda juga tertarik menerapkan metode Unschooling untuk anak Anda ??

Sebelum Anda memutuskan untuk menerapkan Unschooling pada anak Anda. Ada baiknya Anda menelaah dulu metode ini, kemudian selaraskan dengan mindsett dan keyakinan Anda tentang pendidikan. Karena bisa jadi, disini Anda akan menemukan berbagai hal baru, yang belum Anda temui sebelumnya sejak Anda mengenal sekolah.

Saya menulis artikel ini, sebagai kelanjutan dari tulisan saya sebelumnya tentang Unschooling. Serta melihat perkembangan serta alur diskusi teman-teman yang baru bergabung dengan komunitas Unschooling.

Berikut ini adalah poin-poin yang perlu Anda persiapkan dan ketahui sebelum memutuskan untuk menerapkan metode Unschooling pada anak Anda :

1.. Unscholing itu apa

Unschooling” atau dalam terjemaham kasarnya adalah “tidak sekolah”, adalah metode pendidikan yang diselenggarakan oleh orang tua sendiri. Kurikulumnya dirancang spesial oleh orang tua dengan menyesuaikan tingkat perkembangan psikologis, kepribadian, serta kecerdasan majemuk pada anak. Orang tua berperan memfasilitasi pendidikan anak. Bentuk aktivitas, dimana, menggunakan alat apa, siapa pemandunya, kursus apa, dan lain-lain dilakukan berdasarkan kesepakatan dengan anak. Bukan mutlak arahan dari orang tua. Dasar penyusunan kurikulum belajarnya, sesuai dengan norma dan nilai yang berlaku pada keluarga yang bersangkutan.

Unschooling adalah sebuah kesaradan orang tua akan pentingnya kemandirian pendidikan untuk anak. Sekali lagi, Unschooling itu adalah kesadaran, bukan gerakan. Sehingga para penganut Unschooling tidak butuh penggalangan masa atau promosi. (Baca juga : “Unschooling adalah”)

Ketika penganut Unschooling membentuk sebuah komunitas, tujuannya sekedar berbagi pengalaman dan pengetahuan saja. Ber-komunitas inipun bukan hal yang mutlak pula. Karena tidak ada dampak langsung ketika seorang penganut Unschooling bergabung dalam komunitas atau tidak. Yang penting yang bersangkutan bisa menjadi fasilitator belajar yang baik, sudah cukup.

2.. Perbedaan Unschooling dan Homeschooling

Hampir semua kawan yang tertarik dengan Usnchooling mempertanyakan hal ini. Dan dalam seminar selalu menjadi pertanyaan pokok. Semacam hal dasar yang ingin diketahui diawal, setelah tahu definisi Unschooling, dan sebelum melanjutkan pada pembahasan lainnya.

Sebagian orang mengelompokkan Unschooling sebagai bagian dari Homeschooling. Atau dengan pemahaman pendidikan rumah atau pendidikan mandiri yang dilakukan oleh orang tua. Boleh saja sih. Namun ketika melihat fenomenanya, antara Unschooling dan Homeschooling memiliki perbedaan. Yang paling mencolok adalah Homeschooling memiliki kurikulum standart yang diakhir proses pembelajaran dilakukan ujian untuk mendapatkan ijazah. Sedangkan dalam Unschooling sama sekali tidak ada kurikulum standart, apalagi ijazah.

Secara pribadi saya tidak ambil pusing, apakah Unschooling dimasukkan dalam golongan Homeschooling atau berdiri sendiri. Bagi saya hal tersebut hanya sekedar istilah saja. Yang penting justru implementasinya. Hingga kemudian muncul rumus memilih metode pendidikan :

  • Jika Anda ingin anak Anda punya ijazah, dan Anda tidak punya waktu atau kemampuan mendidiknya, sebaiknya pilih  SCHOOLING.
  • Jika Anda ingin anak Anda punya ijazah, dan Anda memiliki waktu dan kemampuan untuk mengembangkan potensi spesial anak Anda,  sebaiknya pilih HOMESCHOOLING.
  • Jika Anda tidak mementingkan ijazah pada anak Anda, dan Anda memiliki waktu dan kemampuan untuk mengembangkan potensi spesial anak Anda, sebaiknya pilih UNSCHOOLING. Untuk itulah orang tua penganut Unschooling sebaiknya melakukan DESCHOOLING terlebih dahulu. (Baca juga tentang “Deschooling“)

 

3.. Unschooling bukan produk

Seperti telah pula Anda ketahui, karena masyarakat memiliki kebutuhan yang besar akan pendidikan, maka untuk memenuhi kebutuhan tersebut munculah berbagai metode dan merk layanan pendidikan. Tidak semua layanan bendidikan hanya berfokus pada pencapaian laba. Banyak juga yang berfokus pada pelayanan terbaik dalam pendidikan.

Unschooling bukanlah sebuah produk. Unschooling hanya sebuah metode pendidikan yang dilakukan secara mandiri oleh keluarga. Tidak ada biaya yang wajib disetorkan pada pihak tertentu jika Anda menerapkan metode ini.

4.. Kebiasaan orang tua Unschooling

Beberapa kawan yang baru bergabung dengan komunitas Unschooling merasa kebingungan. Karena tidak ada tema heboh yang dibicarakan. Seperti ketika Anda sering mengantar anak Anda ke sekolah. Bertahun-tahun Anda mengantarkanya, selalu saja ada tema heboh yang menjadi bahan pembicaraan. Termasuk didalamnya persaingan antar orang tua tentang anaknya. Yang nilainya bagus lah, yang les ini lah, yang itu lah. Bagaimana meningkatkan kemampuan anak bidang ini atau itu lah. Banyak hal.

Berbeda dengan para orang tua penganut Unschooling. Dimana masing-masing menganut kurikulumnya sendiri-sendiri. Sehingga tidak ada hal yang menjadi bahan persaingan.

Misalnya ketika anak saya secara alami sudah bisa membaca di usia 3 tahun, sedangkan anak Anda mampu menggambar pada usia yang sama. Itu bukan hal yang kemudian menjadi perbandingan. Karena para orang tua Unschooling sangat memahami keunikan setiap anak, dan perbedaan di setiap keluarga. Ada juga orang tua penganut Unschooling yang selalu traveling menjelajah nusantara bersama anaknya. Dimana anaknya sekaligus belajar tenang alam, keterampilan hidup, dan lain sebagainya. Ada orang tua yang lain cenderung mengajak anaknya untuk kursus sesuai minat dan bakatnya. Serta ikut orang tuanya dalam aktivitas sehari-hari, sebagai wahananya belajar.

Tidak bisa dibandingkan kan ??

 

5.. Anak unschooling berbeda dengan anak liar

Suatu saat seorang kawan bertanya pada saya tentang “Apakah anak unschooling (tidak sekolah) akan menjadi anak liar (anak jalanan) ?”. Saya bilang hal itu sangat berbeda. Anak yang Unschooling bukan berarti tanpa pengawasan. Tidak sekolah formal bukan berarti tidak dididik. Justru jika dipahami, pendidikan anak Unschooling berlaku 24 jam tanpa jeda. Bedanya adalah yang jadi pemegang kebijakannya adalah “kesepakatan” antara orang tua dan anak. Berbeda dengan sekolah formal dimana ada regulasi formal yang berperan di sana. (Baca juga tentang “Masa depan anak Unschooling“)

 

Sebelum Anda memutuskan untuk menganut Unschooling, ada baiknya Anda mengumpulkan dan memahami banyak informasi terlebih dahulu. Metode ini ibarat makan makanan pedas. Baik dan nikmat untuk dimakan, namun tidak disarankan untuk setiap orang. Jika Anda belum siap menanggung resiko sosial yang berpotensi muncul ketika Anda menganut Unschooling, atau konsekuensi tanggung jawab ketika menerapkannya, sebaiknya Anda menganut metode pendidikan yang umum saja.

Metode Unschooling bukanlah metode yang baik untuk dikoar-koarkan, apalagi seperti promo merk dagang. Karena bisa jadi masyarakat saat ini tidak semuanya berpikiran terbuka tentang metode pendidikan. Lebih baik pengetahuan dan pengalaman menerapkan Unschooling ini menjadi bahan diskusi dan inspirasi, untuk kita yang berpikiran terbuka, dan menginginkan pendidikan yang terbaik untuk anak.

Semoga bermanfaat….

#KataMasOkta

Tips menghadapi pertanyaan “Kapan nikah” saat silaturahim lebaran

halbi

Tips menghadapi pertanyaan “Kapan nikah” saat silaturahim lebaran

Bagi para joblowers yang sudah bekerja, mungkin saat ini sudah pasang kuda-kuda untuk menjawab pertanyaan “Kapan nikah” yang lazim ditanyakan oleh kerabat tentang status Anda saat ini. Banyak orang merasa risih mendapatkan pertanyaan ini. Apalagi memang pernikahan adalah urusan pribadi. Banyak aspek yang tidak mungkin untuk diceritakan pada orang lain. Apalagi bukan keluarga inti. Namun apa daya, norma sosial membuat pertanyaan ini menjadi basa-basi yang bermaksud untuk saling melepas rindu antar sanak keluarga yang lama tak jumpa.

Namun sebenarnya bukan masalah menikah saja yang menjadi pertanyaan yang membuat risih. Jika Anda sudah menikah pun, tak lepas dari pertanyaan urusan kehidupan pribadi tersebut. Misalnya : “Anaknya kok cuma satu, kapan nambah?”; “Sekarang kerja dimana? Kenapa nggak kerja di tempat pakde saja?”; “Lho sekarang jadi ibu rumah tangga ya, apa nggak sayang ijazah S-2 nya?”; “Anaknya sekolah dimana? Kenapa nggak disekolahin di sekolah favorit aja?”; “Bagaimana pasanganmu, sudah ada perubahan sikap?”; dan masih banyak lagi pertanyaan-pertanyaan yang membuat risih, karena menyangkut urusan pribadi. Apalagi diselingi oleh statmen atau nasihat yang sifatnya memaksa. Apakah Anda pernah mengalaminya ??  Hal ini membuat pekiwuh (rikuh, perasaan tidak nyaman pada orang yang lebih tua atau lebih dihormati) orang yang ditanyai. Jika dijawab apa adanya, bisa-bisa membuka aib atau kondisi internal keluarga, namun jika tidak dijawab, seakan menjadi pesakitan yang diinterogasi dan dipaksa untuk mengiyakan pendapat mereka.

Memang kerabat yang bertanya tersebut pasti memiliki maksud yang baik. Selain untuk mendapatkan gambaran yang lebih lengkap tentang kondisi terkini Anda dan keluarga Anda. Bisa jadi mereka berharap bisa lebih akrab dan mungkin mereka bisa turut andil membantu permasalahan Anda. Padahal pada jaman now ini, justru ikut campur atau kepo (dorongan ingin tahu yang besar) tentang masalah pribadi, malah bisa meretakkan keakraban antar kerabat.

Berikut ini adalah beberapa seting pikiran yang bisa Anda copy-paste pada pikiran Anda. Sehingga Anda tetap nyaman berkomunikasi dengan kerabat yang bertanya hal-hal pribadi, serta tetap menjaga silaturahim :

  1. Anda adalah orang yang bertanggung jawab pada kehidupan Anda. Segala permasalahan, Anda-lah yang menanggung sendiri resikonya. Jadi jika Anda ingin curhat pada kerabat, pilihlah kerabat yang bisa dipercaya dan kompeten untuk membantu Anda. Curhatlah secara pribadi. Hindari untuk curhat pada saat kumpul bersama (forum). Karena bisa jadi curhat Anda menjadi aib yang tidak semua kerabat bisa bijak menyikapinya.
  2. Niatkan momen halal bi halal ini sebagai momen menyambung silaturahim, serta hal-hal produktif lainnya. Misalnya cari kenalan saudara jauh yang cakep, info pekerjaan, peluang bisnis, ngenalin calon pasangan ke keluarga besar, ngenalin anak ke keluarga besar dan leluhur, dll.
  3. Woles saja ketika menghadapi kerabat yang kepo urusan pribadi Anda, dan memaksakan saran/pendapatnya pada Anda. Coba maklumi sikapnya yang demikian. Karena biasanya dia memiliki kebutuhan untuk diperhatikan dan diakui yang tinggi. Hal ini bisa disebabkan oleh masa kecilnya kurang mendapatkan perhatian dan pengakuan. Atau bisa juga kerabat yang sudah sepuh, sehari-hari tidak ada kegiatan yang bermakna, serta anak-anaknya sudah pada mandiri semua. Sehingga setinggi apapun stratanya saat ini, dia masih ingin mendapatkan perhatian dan pengakuan lebih. Sehingga sering yang dijadikan sasaran adalah kerabatnya yang menurut perspektifnya stratanya dibawah dia.
    Jika menghadapi kerabat yang seperti ini, cobalah untuk tidak memasukkan pikiran dan hati perkataanya. Jika Anda dikasih nasihat, coba diiyakan saja. Jika Anda direndahkan, hindari untuk diambil hati. Jika sangat terpaksa, ketika Anda sudah tidak kuat menahan tekanan darinya, coba hindari dia.
    Hindari untuk dendam dan selalu berikan maaf padanya. Maklumi kondisi psikologisnya yang demikian sebagai korban masa lalunya.
  4. Apapun strata Anda saat ini, hindari untuk tinggi hati ataupun minder. Niatkan momen ini adalah untuk silaturahim sesama manusia. Bukan secara profesional.
    Jika ada kerabat yang sok pamer kekayaan atau kehebatanya, katakan dalam diri Anda, bahwa bisa jadi kerabat Anda itu barusan saja menjadi kaya (OKB). Jadi wajarlah jika dia demikian. Seperti anak kecil yang sok jagoan setelah belajar satu jurus bela diri. Tersenyumlah Anda dalam hati.

Semoga bermanfaat….
Nikmati libur lebaran Anda kali ini….

Selamat idul fitri 1439H
Mohon maaf lahir dan batin

Tips Curhat Yang Bermanfaat…

men wearing black suit jacket
Photo by rawpixel.com on Pexels.com

*Tips Curhat Yang Bermanfaat…*

Curhat yang merupakan kependekan dari curahan hati, merupakan sebuah fenomena dalam masyarakat jaman old hingga jaman now. Curhat adalah suatu aktivitas yang alami dilakukan oleh manusia sebagai mahluk sosial. Apakah Anda pernah curhat ??

Curhat pada dasarnya adalah cara untuk mengurangi beban pikiran, yang disampaikan melalui kata-kata kepada orang lain. Jadi curhat adalah bentuk aktivitasnya. Dimana aktivitas curhat ini adalah netral. Bukan baik dan juga bukan buruk. Namun terkadang curhat bisa menjadi hal yang buruk jika dilakukan secara tidak bijaksana.

Berikut ini adalah tips curhat sehingga bisa bermanfaat :

  1. Curhat dilakukan hanya jika menghadapi permasalahan yang pelik atau jalan buntu saja. Sehingga dengan curhat bisa mengurangi beban batin serta mendapatkan inspirasi baru.
  2. Curhat yang terlalu sering, apalagi berkaitan dengan urusan-urusan yang sepele mengindikasikan Anda memiliki kebutuhan untuk diperhatikan yang sangat tinggi. Atau bisa juga mengindikasikan Anda adalah orang yang memiliki ketahanan mental yang rendah.
    Jika Anda gemar melakukan hal ini, ada baiknya Anda secepatnya berkonsultasi dengan orang yang ahli. Sehingga kehidupan Anda menjadi lebih baik daripada sebelumnya.
  3. Pilih situasi yang sangat menjaga privasi Anda. Hindari untuk curhat pada kondisi yang terdapat banyak orang yang bisa ikut nimbrung. Hal ini rawan terjadi multi tafsir dan perspektif tentang permasalahan Anda. Maka Anda akan dibuat bingung, apalagi jika ada orang yang malah berbalik menyalahkan Anda dengan curhat Anda tersebut.
  4. Pilihlah kerabat atau saudara yang kompeten menerima curhat Anda. Setidaknya bisa menjaga rahasia, bisa menyikapi dengan bijaksana posisi Anda, syukur-syukur punya wawasan dan ilmu yang cukup untuk membantu Anda menemukan solusi.
  5. Curhatlah pada orang yang profesional. Dimana dia memang profesinya adalah mendengar keluh kesah. Ditambah lagi dia pasti bisa menjaga kerahasiaan Anda, sebagai bagian dari kode etik profesinya. Plus yang spesial adalah dia pasti memiliki latar belakang ilmu dan pengetahuan untuk membantu melihat permasalahan Anda dari perspektif yang berbeda dan realistis. Sehingga Anda bisa kembali optimis dan bersemangat dalam menghadapi permasalahan Anda.
    Jika Anda memusingkan tentang biaya berkonsultasi dengan profesional, coba pikirkan juga dampak besar yang akan Anda dapatkan setelah melakukan curhat dengan profesional. Bisa jadi biaya yang Anda keluarkan sangatlah kecil dibandingakn dengan manfaat yang Anda dapakan.
  6. Bukalah hati dan pikiran Anda ketika menerima perspektif dari profesional. Sehingga perspektif baru bisa menjadi pencerahan pikiran Anda.
  7. Tetaplah menyadari bahwa Anda-lah yang bertanggung jawab tentang penyelesaian masalah Anda ini. Bukan profesional atau kerabat yang Anda curhati. Hindari melimpahkan masalah pada mereka. Atau menggantungkan solusi pada mereka. Jika ini yang terjadi, maka mengindikasikan Anda akan sulit lepas dari permasalahan Anda.

Untuk bisa curhat dengan profesional, Anda bisa ambil smartphone Anda kemudian kirim pesan WA ke 085105224499 untuk informasi dan penjadwalan konsultasi.

Semoga bermanfaat…

Akhirnya bisa lepas dari kegelisahan dan depresi bertahun-tahun…

active activity balance beach
Photo by Pixabay on Pexels.com

Senang sekali mendengar kabar dari Dedi (bukan nama sebenarnya). Seseorang yang selalu hidup dalam kegelisahan dan kemarahan yang telah teraduk menjadi satu sejak puluhan tahun lalu. Apakah Anda juga mengalaminya dalam hidup Anda ??

Sekilas tentang Dedi, dimana dia mengalami rasa ketidak percayaan diri dalam memutuskan sesuatu. Rasa takut membuat keputusan yang salah, takut rugi, takut dimarahi, dan ketakutan-ketakutan yang lain. Membuatnya menjadi depresi dan tidak berdaya. Ditambah lagi dengan statusnya sebagai seorang suami. Dimana dia memiliki keyakinan bahwa suami itu harus mengayomi istri dan anak-anaknya. Suami harus bisa menjadi sandaran dan pelindung keluarganya. Sedangkan dia sendiri merasa tidak punya kepercayaan diri untuk memutuskan sesuatu.

Disamping itu dia pun memiliki kemarahan pada orang tuanya. Dimana dia menyadari penyebab ketidak percayaan dirinya adalah karena dia, meskipun anak pertama, sejak kecil tidak pernah diberikan kepercayaan untuk memilih pilihan hidupnya sendiri. Mulai dari pakaian hingga hobby, semuanya serba ditentukan oleh mamanya. Hingga saat dewasa pun dalam memilih pekerjaan, membeli rumah, hingga menentukan pesta pernikahan pun ditentukan oleh mamanya.

Kondisi ini membuat Dedi mengalami kegelisahan dan kemarahan sepanjang hidupnya. Suatu pergumulan batin antar kepribadiannya sendiri yang berlangsung setiap saat. Keinginan pribadi vs Bayang-bayang mamanya; Impian pribadi vs Pengalaman kecewa; Marah pada mamanya vs Keinginan menjadi anak yang berbakti; dan berbagai pegumulan batin lainnya. Ibaratnya luka batin di masa kecil, masih menganga hingga dewasa saat ini. Masa kecil yang kurang bahagia, terbawa hingga dewasa.

Hingga suatu saat Dedi memantabkan dirinya. Dia ingin menjadi suami yang berprinsip. Sehingga bisa menjadi sandaran istri dan anaknya. Namun dia masih kebingungan, hal apa yang harus dia lakukan. Mindset apa yang harus dibenahi terlebih dahulu.

Dedi kemudian bertemu dengan saya untuk berkonsultasi. Dalam diskusi yang kami lakukan saat itu, dibantu dengan tes psikologi dan Point Of You. Akhirnya Dedi menemukan sejatinya siapa dirinya, ketika terlepas dari dominasi mamanya. Ditambah dengan hipnoterapi dan motivasi, Dedi semakin mantab untuk memperbaiki dirinya. Memiliki prinsip hidup yang kuat dan bahagia, bisa menjadi pengayom istri dan anaknya, tanpa harus memendam dendam pada mamanya.

Bahagia tak terkira ketika siang ini Dedi menghubungi saya. Dengan nada bahagia dia menceritakan bahwa dia telah berani mengambil keputusan. Sebuah keputusan sederhana, namun sangat berpengaruh pada seluruh hidupnya. Sehingga dia sekarang merasa sangat jauh lebih bahagia daripada sebelumnya. Dengan kata lain, Dedi telah berhasil menindaklanjuti diskusi kami. Sehingga luka batinnya satu per satu menutup dan akhirnya sembuh.

Anda ingin mengalami kebahagiaan seperti yang dialami Dedi ????

Ambil smartphone Anda sekarang. Lalu kirim pesan WA ke 085105224499 untuk membuat appointment konsultasi dengan saya.

Bagaimana saya bisa dapatkan Rp 100 juta

uang-tunai.jpg

Suatu saat seseorang datang pada saya bermaksud untuk minta bantuan dalam mengurai keruwetan pikirannya. Sehingga obrolan kami pun diawali dengan tema-tema yang terkesan tidak penting dan tidak jelas. Sambil menemukan pangkal keruwetan pikirannya yang akhir-akhir ini memicu kecemasan dalam hatinya.

Anggap saja dia bernama Deny (bukan nama sebenarnya). Seorang pebisnis bidang entertainment yang telah menekuni bisnis ini sejak puluhan tahun yang lalu. Dengan klien dari berbagai genre. Baik di Indonesia ataupun di Amerika dan Eropa.

Hingga pada suatu tema pembicaraan, dimana Deny  bercerita dengan penuh perasaan. Dimana dia keheranan dengan kejadian-kejadian yang terjadi dalam bisnisnya. Setiap dia ingin mendapatkan projek senilai Rp 100 juta selalu gagal didepan mata. Padahal semua persyaratan sudah dia penuhi. Hanya tinggal menunggu hari penandatanganan kontraknya saja. Ada saja hal yang membuatnya batal.

Hal yang membuat gusar Deny adalah, mengapa setiap ingin mendapatkan projek senilai Rp 100 juta selalu gagal. Padahal untuk mendapatkan projek senilai Rp 90an juta, sudah biasa baginya. Padahal hanya selisih sedikit saja, sulitnya minta ampun. Hingga tanpa sadar hal ini menguras energi psikologisnya.

Obrolan sore itu semakin bergeser dan bergeser. Hingga menyentuh ranah pengalaman masa kecil Deny bersama orang tuanya. Dimana salah satu pengalaman yang sangat membekas adalah pesan almarhum ayahnya yang berbunyi “le, donyo gak digowo mati” (nak, harta itu tidak dibawa mati). Pesan ini sangat merasuk dalam pikiran Deny.

Kemudian saya tanya pada Deny. Kenapa dia ingin projek senilai Rp 100 juta. Deny menjawab bahwa itu adalah impiannya dia. Sebuah kebanggaan baginya mendapatkan projek senilai sekian.

Jawaban Deny inilah yang memantik kata “Aha…..” dalam benak saya. Bisa jadi keyakinan dari pesan almarhum ayah Deny inilah yang memicu terjadinya self sabotage atau sabotase diri sendiri. Semacam benturan anatar dua software pikiran. Atau pertraungan dua kepribadian. Satu kepribadian ingin menerapkan pesan almarhum ayah, yakni hidup sederhana tanpa mementingkan harta. Sedangkan keperibadian yang lain ingin mendapatkan kebanggaan berkaitan dengan harta.

Kemudian saya mencoba menemukan keyakinan-keyakinan yang lain tentang kehidupan pada kepribadian Deny. Hingga saya menemukan satu keyakinannya yang bisa selaras dengan keinginannya mendapatkan projek senilai Rp 100jt. Sehingga kedua kepribadian yang awalnya bertolak belakang. Selanjutnya bisa berjalan selaras mewujudkan impian. Tetap hidup sederhana, dengan penghasilan lebih besar, dan persiapan bekal mati yang lebih dari sebelumnya.

Hingga seminggu kemudian, saya mendapatkan pesan text dari Deny, bahwa ia sudah berhasil mendapatkan projek senilai Rp 100juta. Dengan hati yang semakin bahagia dan ikhlas. Sangat berbeda dari kondisi sebelumnya.

Kondisi yang dialami Deny, yakni benturan antar kepribadian, bisa saja terjadi pada siapa saja. Termasuk Anda ataupun kerabat dan teman Anda. Oleh karena itu, saya berikan Anda informasi kontak kami :

Media Sugesti :
Phone & WA 0851 0522 4499
Atau klik link ini info konseling

Saya nggak bisa melakukan unschooling

Dulu ketika saya awal-awal mengenal unschooling, sempat bingung untuk mendapatkan informasi lebih detil tentang unschooling. Komunitas belum ada, blog ataupun akun sosmed tentang unschooling pun belum ada yang bikin. Yang lebih mudah ditemukan adalah informasi tentang homeschooling. Padahal bukan itu yang saya cari.

Saat itu memang sulit menemukan penjelasan tentang apa itu unschooling. Berbeda halnya dengan metode schooling. Dimana informasinya bertebaran dimana-mana. Mulai dari teori, metode, panduan, hingga penawaran-penawaran sekolah dengan berbagai programnya.

Setelah saya memahami unschooling, dan dengan mantap menganutnya. Baru saya sadar. Bahwa unschooling bukan gerakan sosial, apalagi produk jasa pendidikan. Unschooling adalah bentuk kesadaran orang tua yang memberikan pendidikan pada anaknya sesuai potensi, kepribadian, serta nilai-nilai dalam keluarganya. Dimana setiap keluarga memiliki nilai-nilai unik, serta kemampuan masing-masing. Itulah sebabnya para unscooler (sebutan untuk penganut unschooling) tidak suka koar-koar tentang unschooling. Para unscooler lebih suka untuk fokus menjadi fasilitator belajar anaknya.

Saya pun demikian juga. Setelah saya pikir-pikir, apa manfaatnya koar-koar tentang unschooling yang saya anut. Rasanya lebih bermanfaat bagaimana saya membantu anak saya untuk belajar berbagai hal yang menjadi minatnya dan sesuai bakatnya.

Saya baru bercerita bahwa saya adalah unschooler ketika saya ditanya “anaknya kelas berapa”. Saat itulah saya baru buka kartu. Bahwa anak saya unschooling.

Ada dua respon yang sering muncul ketika kawan mendengar jawaban saya. Respon pertama, hanya “Oooooo…”. Sudah. Kemudian saya pun merasa tidak perlu menjelaskan tentang apa itu unschooling.

Respon kedua adalah keheranan. Biasanya sambil dahi mengkerut dan bertanya “apa itu unschooling?”. Pada respon ini saya menjelaskan tentang apa itu unschooling dan bagaimana prosesnya.

Diantara berbagai respon orang yang mendengar penjelasan saya. Ada beberapa respon yang menarik. Diantaranya adalah:

  • “Itu metode pendidikan yang sulit. Tidak semua orang tua bisa menerapkan unschooling.”
  • “Saya nggak bisa melakukan unschooling. Saya jarang dirum”

Mendapatkan respon seperti ini batin saya pun berbisik sambil tersungging. “Siapa yang ngajak Anda untuk menganut unscoolling. Hehehehe…”

Karena saya ditanya anak saya kelas berapa, maka saya bercerita tentang unschooling. Kalau tidak ditanya, ya saya nggak akan cerita. 😁😁

Memang betul, bahwa orang tua harus memiliki kesiapan mental dan pengetahuan yang cukup, ketika memutuskan memilih unschooling. Jika tidak memiliki kesiapan tersebut sebaiknya memilih metode yang mainstream saja.

Unschooling bukanlah gerakan sosial atau layanan jasa pendidikan. Jadi tidak perlu untuk mengajak, apalagi menggalang masa.

Unschooling adalah metode pendidikan yang berdasar kesadaran serta kesediaan orang tua untuk mendidik anak secara mandiri. Dan menjadi fasilitator belajar anak sesuai potensi dan kepribadiannya.

#KataMasOkta