Unschooling adalah…

TERINSPIRASI oleh seorang kawan yang telah menerapkan Unschooling pada putranya. Dimana saya dan istri mengikuti segala catatan-catatannya yang dibagikan melalui media sosial. Dan kamipun sering membagikannya kembali pada teman-teman kami. Mungkin Anda sudah bisa menebak, siapa orangnya. 🙂

Seiring waktu kami pun sepakat untuk menerapkan hal ini pada putra kami. Dimana saat artikel ini saya tulis, usia putra kami baru 2 tahun 3 bulan. Bagi kami, inspirasi dan informasi berkaitan dengan Unschooling yang dibagikan oleh kawan kami di media sosial, bagaikan pelita di lautan gelap. Sangat mencerahkan dan mengisnpirasi. Sehingga setelah melalui diskusi-diskusi panjang, maka kami sepakat menerapkan metode Unschooling pada putra kami.

Pada artikel ini, saya ingin berbagi dengan Anda, para parents kekinian, tentang apa itu metode Unschooling. Dan pertimbangan apa yang membuat kami menjadi jatuh hati pada metode Unschooling. Yang pasti, yang saya sharingkan disini adalah pemahaman Unschooling versi kami. Disamping pula pertimbangan-pertimbangan kami. Yang jelas kami tidak berupaya menjelekkan metode yang lain dan mengunggulkan Unschooling. Memilih metode pendidikan mirip memilih tempat dimana Anda akan makan malam bersama anak-anak Anda. Apakah Anda mau makan di restoran, warung kaki lima, mau makan di rumah saja, atau makan di tempat hajatan tetangga. Itu adalah pilihan Anda yang bebas Anda pilih sesuai kebutuhan dan konsekuensi yang bisa Anda tanggung.

Mengapa kami memilih Unschooling :

  1. Pada dasarnya yang berkewajiban mendidik anak adalah parents. Bukan lembaga sekolah dan perangkatnya.
  2. Pendidikan formal dan ijazah tidak menjamin seseorang menjadi sukses.
  3. Sering kami temukan metode pendidikan formal lebih menitik beratkan pada transfer hard skill (akademis) daripada soft skill (karakter dan perilaku). Meskipun kurikulum pendidikan formal sudah diarahkan lebih pada pembentukan soft skill, namun pada praktiknya masih belum berjalan sebagaimana mestinya.
  4. Sering kami temukan sebagian pendidik hanya menggunakan falsafah “Tut Wuri Handayani” (dari belakang memberikan dorongan / semangat) saja. Padahal dalam pendidikan anak dan orang dewasa, ajaran Ki Hajar Dewantara sangatlah lengkap. Yakni “Ing Ngarso Sung Tuladha” (didepan memberikan contoh / teladan); “Ing Madya Mangun Karso” (ditengah-tengah membangun semangat. Jika berada di-tengah, berarti juga harus memiliki kesetaraan. Bukan ekskusifisme); “Tut Wuri Handayani” (dari belakang memberikan dorongan / dukungan).

    Poinnya adalah anak lebih mudah belajar dengan cara meniru. Oleh sebab itu dibutuhkan teladan yang layak diteladani. Khususnya berkaitan dengan karakter, pola pikir, dan perilaku.

  1. Kami juga menemukan materi pelajaran di pola pendidikan formal yang tidak selaras dengan bakat anak, sehingga tidak aplicable pada kesuksessannya. Misalnya: anak yang memiliki keunggulan kecerdasan di bidang musik. Maka sebaiknya anak tersebut lebih banyak belajar tentang hal-hal yang berkaitan dengan kepekaan suara, memainkan alat musik, managemen pementasan, managemen keuangan pribadi, dan lain-lain yang selaras dengan bakatnya. Sehingga belajar tentang materi tumbuhan monokotil dan tumbuhan dikotil, bisa jadi kurang bermanfaat untuk anak yang berbakat di bidang musik ini.
  2. Dan berbagai alasan lainnya yang mungkin akan lebih elok jika saya ceritakan saat kita berbincang secara langsung.

Dari berbagai alasan kami tersebut, kami menyadari bahwa banyak hal yang tidak memungkinkan untuk dipenuhi oleh metode pendidikan formal. Seperti pada poin ke-5. Saya dan istri sempat berandai-andai. Jikasaja dulu waktu yang kami gunakan untuk belajar tentang unsur-unsur kimia pada waktu SMA, digunakan untuk melatih teknik public speaking, mungkin bisa jadi kesuksesan menjadi lebih cepat dan mudah tercapai.

Yang pasti bukan bermaksud menghujat masa lalu. Namun hal tersebut sebagai bahan refleksi, sehingga kedepan anak-anak kita memiliki waktu dan materi belajar yang efektif, sesuai dengan bakat dan mengantarkan pada kesuksessannya.

Nah,dari obrolan kita tadi, mungkin Anda telah bisa menduga tentang apa yang diesebut dengan metode “Unschooling” ?

Unschooling” atau dalam terjemaham kasarnya adalah “tidak sekolah”, adalah metode pendidikan yang diselenggarakan oleh parents sendiri. Kurikulumnya dirancang spesial oleh parents dengan menyesuaikan tingkat perkembangan psikologis, kepribadian, serta kecerdasan majemuk pada anak. Parents berperan memfasilitasi pendidikan anak. Bentuk aktivitas, dimana, menggunakan alat apa, siapa pemandunya, kursus apa, dan lain-lain dilakukan atas kehendak anak. Bukan arahan dari parents. Sehingga parents diwajibkan memiliki pengetahuan yang cukup berkaitan menjadi fasilitator dalam metode Unschooling ini.

Melalui metode Unschooling, anak akan belajar banyak hal yang selaras dengan kecerdasan majemuknya. Dan anak diharapkan bisa belajar dengan media yang nyata, dan dipandu oleh orang yang kompeten di bidangnya. Jadi misalnya belajar tentang menanam padi, ya langsung belajar di sawah, langsung terjun dengan kaki belepotan, menanam padi di sawah seperti petani. Dan dipandu oleh orang yang kompeten menjelaskan tentang proses menanam padi. Baik cara menanamnya, hingga proses mengolahnya hingga menjadi beras. Bukan sekedar mendengar cerita ataupun menyaksikan rekaman video. Namun langsung sesuai dengan kenyataannya. Pada materi pembelajaran yang lain pun demikian. Sehingga konsekuensi proses belajar (waktu, biaya, dll) sebaiknya perlu benar-benar dipertimbangkan oleh Anda yang ingin memutuskan memilih Unschooling untuk anak Anda.

Berkaitan dengan IJAZAH, seperti yang diharapkan kebanyakan orang pada akhir proses belajar formal. Pada metode Unschooling ini sangat berbeda. Karena Unschooling tidak mementingkan ijazah. Meskipun akhir dari proses belajar adalah bekerja (meskipun dalam bekerjapun juga tetap harus belajar J ), pada kenyataannya tidak semua pekerjaan membutuhkan ijazah. Bahkan banyak orang bisa memiliki kehidupan yang spektakuler, tanpa menggunakan ijazah. Jadi jika Anda adalah tipe parents yang ijazah oriented, maka metode Unschooling sepertinya kurang cocok untuk anak Anda.

Konsekuensi parents yang memilih metode Unschooling :

  1. Waktu harus sangat lebih banyak untuk anak, daripada untuk pekerjaan.
  2. Biaya belajar mungkin lebih besar daripada jika anak belajar formal.
    Jika belajar formal, pengeluaran rutin adalah untuk biaya sekolah. Namun jika Unschooling, dibutuhkan biaya dan waktu untuk mengantar ke tempat belajar. Misalnya ke sawah, camping, ke museum, lokasi bersejarah, dan lain sebagainya. Belum lagi biaya untuk bahan belajar. Misalnya belajar tentang tepung. Maka bisa jadi dapur Anda akan diselimuti tepung yang berhamburan, yang misalnya dikumpulkan bisa dibuat untuk 1 kue donat.
  1. Rumah dan mobil Anda, bisa jadi akan berantakan. Karena semua benda adalah bahan belajar. Apakah itu pensil warna, arang, dacron bantal, lampu pijar, kain pel dan lain sebagainya.
  2. Gengsi tempat sekolah dan ijazah yang tidak akan Anda temukan di Unschooling.
    Unschooling di masyarakat sini belum dikenal baik. Yang ada adalah ngengsi anaknya disekolahkan dimana, nilainya berapa, ijazahnya apa. Sedangkan Unschooling lebing mengedepankan pembentukan karaketer dan keterampilan hidup.
    Jika Anda tetap menganggap kesuksesan anak bagaikan perlombaan antar sesama parents. Coba Anda pikirkan lagi, silahkan tentukan dimana letak finishnya. Apakah ketika anak belajar di sekolah favorit tertentu dan berhasil mendapatkan nilai sempurna. Atau ketika anak berhasil memiliki kehidupan yang mandiri, santun dengan orang yang lebih tua, serta mampu menyelesaikan masalah hidupnya.

Hal-hal yang perlu dipahami parents sebelum memutuskan untuk memilih Unschooling :

  1. Fase perkembangan psikologis dan fisik anak.
    Bahwa setiap usia manusia memiliki tugas perkembangan psikologis dan fisiknya masing-masing. Dengan memahami fase perkembangan fisik dan psikologis anak, maka Anda akan bisa membantu merancang pembelajaran apa yang bisa ditawarkan pada anak. Misalnya kapan sebaiknya anak boleh belajar tentang hujan. Yang pasti dengan bermain hujan-hujan.
  1. Kecerdasan majemuk anak.
    Terdapat beberapa kecerdasan majemuk pada manusia. Anda bisa mendeteksi kecerdasan majemuk anak Anda dengan cara observasi perilaku yang senang dia lakukan tanpa disuruh dan berkesinambungan. Dengan pula didukung oleh hasil tes potensi diri melalui sidik jari. Atau juga tes psikologi minat bakat.
    Dengan mengetahui kecerdasan majemuk anak Anda, maka Anda bisa merancang bidang belajar apa yang Anda tawarkan. Misalnya berkaitan dengan bahasa, matematika, musik, alam, dll.
  1. Trend kesuksesan di masa depan.
    Setiap masa memiliki trend sukses yang berbeda. Di masa lalu, orang yang memiliki status pendidikan formal-lah yang mendapatkan kehormatan dan kesuksesan. Sebaliknya orang yang tidak berpendidikan formal, dianggap kaum marginal.
    Sedangkan pada masa sekarang, fenomenanya banyak orang berpendidikan tinggi, strata sosial yang tinggi, namun memiliki kualitas hidup yang rendah. Bahkan sering kalah dengan orang-orang yang kurang memiliki latar belakang pendidikan formal.
    Bercermin dari kondisi masa lalu dan masa sekarang. Maka bisa jadi di masa depan, orang yang sukses adalah orang yang memiliki kompetensi, semangat juang yang tangguh, memiliki etika, dan mampu memanfaatkan peluang, serta mampu menjadi LEADER bukan FOLLOWER.

Sebagai parents, saya berharap dengan menerapkan Unschooling, saya bisa mendukung anak saya untuk mengaktualisasikan segala potensinya, sehingga bisa bermanfaat untuk umat manusia se-dunia.

Semoga bermanfaat. 🙂

#Oktastika #KataMasOkta #MetodeUnschooling